3/07/2014

Peranan Statistik dalam Penelitian


1.     Perbedaan Statistika Inferensial dan Deskriptif
Menurut Sugiyono dalam bukunya statistika untuk penelitian (2013:23) “statistika infresial adalah statistika yang digunakan untuk menganalisisa sample, dan hasilnya akan digeneralisasikan (diinferensikan) untuk populasi dimana diambil sample” Sedangkan statistika deskriptif (Sugiyono 2013:21) adalah statistika yang digunakan  untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian, tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas (generalisasi/inferensi). Bila melihat definisi menurut Sugiyono sebenarnya statistika infresial dan deskriptif merupakan salah satu alat untuk menganalisis dan alat untuk membuat keputusan namun statistika infersial cakupanya lebih luas karena statistika deskriptif mengumpulkan data-data atau penyajian suatu pengamatan yang nantinya disajikan atau diolah secara bentuk gambaran saja seperti berupa diagram, grafik dan table. Sedangkan statistika inferensial pengumpulan data atau analisis data dari sample yang nantinya ditarik sebuah opini atau kesimpulan. Sehingga perbedaan mendasarnya terletak pada hasil dari analisis yang disajikanya.

2.    Peranan Statistik dalam Penelitan
Sugiono dalam bukunya “Statistika untuk Penelitain” (2013: 20) menggambarkan peranan statistik dalam penelitian sbb:
1.  Alat untuk menghitung besarnya anggota sampel yang diambil dari suatu populasi. Dengan demikian jumlah sampel yang diperlukan lebih dapat dipertanggungjawabkan.
2.  Alat untuk menguji validitas dan reliabilitas instrument. Sebelum instrument digunakan untuk penelitian, maka harus diuji validitas dan relabilitasnya terlebih dahulu.
3.  Teknik-teknik untuk menyajikan data, sehingga data lebih komunikatif. Teknik-teknik penyajian data seperti ini antara lain: table, grafik, diagram lingkaran dan pictogram.
4.  Alat untuk analisis data seperti menguji hipotesis penelitian yang diajukan. Dalam hal ini statistik yang digunakan antara lain: korelasi, regresi, t-test, anova dll
Statistik memegang peranan yang penting dalam penelitian terutama metode penelitian kuantitatif, statistik berperan baik dalam penyusunan model, perumusan hipotesa, dalam pengembangan alat dan instrumen pengumpulan data, dalam penyusunan desain penelitian, dalam penentuan sampel dan dalam analisa data. Dalam banyak hal, pengolahan dan analisa data tidak luput dari penerapan teknik dan metode statistik tertentu, yang mana kehadirannya dapat memberikan dasar bertolak dalam menjelaskan hubungan-hubungan yang terjadi. Statistik dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui apakah hubungan kausalitas antara dua atau lebih variabel benar-benar terkait secara benar dalam suatu kausalitas empiris ataukah hubungan tersebut hanya bersifat random atau kebetulan saja.
Statistik telah memberikan teknik-teknik sederhana dalam mengklasifikasikan data serta dalam menyajikan data secara lebih mudah, sehingga data tersebut dapat dimengerti secara lebih mudah. Statistik telah dapat menyajikan suatu ukuran yang dapat mensifatkan populasi ataupun menyatakan variasinya, dan memberikan gambaran yang lebih baik tentang kecenderungan tengah-tengah dari variabel.
Statistik dapat menolong peneliti untuk menyimpulkan apakah suatu perbedaan yang diperoleh benar-benarberbeda secara signifikan. Apakah kesimpulan yang diambil cukup refresentatif untuk memberikan infrensi terhadap populasi tertentu.
Teknik-teknik statistik juga dapat digunakan dalam pengujian hipotesa, mengingat tujuan penelitian pada umumnya adalah untuk menguji hipotesa-hipotesa yang telah dirumuskan, maka statistik telah banyak sekali menolong peneliti dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu hipotesa. Statistik juga dapat meningkatkan kecermatan peneliti dalam rangka mengambil keputusan terhadap kesimpulan-kesimpulan yang ingin ditarik.
Penarikan kesimpulan secara statistik memungkinkan peneliti melakukan kegiatan ilmiah secara lebih ekonomis dalam pembuktian kebenaran hipotesis (dugaan sementara) yang terlebih dahulu dirumuskan.

DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono. (2013). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Fajarsidique. (2011). Statistika Deskriptif dan Induktif . [Online]

Juwita, S. (2011). Kedudukan Statistik dalam penelitain. [Online]


Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

            

A.  Pengertian Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

            Untuk dapat memahami perbedaan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif, alangkah baiknya terlebih dahulu mengetahui tentang definisi dari macam penelitian tersebut berdasarkan para ahli. Berikut adalah hasil pemikiran dari para ahli mengenai model penelitan kualitatif dan kuantitatif:
Sugiyono (2013, hlm 14), memandang bahwa metode penelitian kuantitatif berlandaskan filsafat positivisme sedangkan metode penelitian kualitatif berlandaskan postpositivisme, seperti yang dikemukakannya bahwa

Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan menguji hipotesis yang telah ditetapkan

Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara puirposive dan snowboal, teknik pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi

Selain Sugiono, metolog luar seperti Kirk dan Miller (1986) mendefinisikan
Metode kualitatif sebagai tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dalam peristilahan.

Sedangkan menurut Bogdan dan Taylor (1975) dalam buku Moleong (2004:3) mengemukakan “metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamat”.

Miles and Habermas (1994) dalam Sukidin (2002:1) mengatakan
metode kualitatif berusaha mengungkapkan berbagai keunikan yang terdapat dalam individu, kelompok, masyarakat, dan/atau organisasi dalam kehidupan sehari-hari secara menyeluruh, rinci dalam, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dari berbagai definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitan kualitatif lebih menakankan kepada aspek pencarian solusi dari masalah dengan hasil akhir suatu produk berupa hipotesis atau teori, sedangkan penelitian kuantitatif memfokuskan diri terhadap purubahan dari objek yang diteliti dengan menggunakan angka (statistik) untuk mendapatkan keobektivannya.


B.                 Perbedaan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

Untuk mengidentifikasi karakteristik dari model penelitian kuantitatif dan kualitatif, maka harus diketahui perbedaanya “Perbedaan antara kualitatif dan kuantitatid meliputi tiga hal yaitu perbedaan tentang aksioma, proses penelitian, dan karakteristik penelitian itu sendiri.” (Sugiono, 2013. hlm.16).
1.    Perbedaan Aksioma
Aksioma adalah pendapat yang dijadikan pedoman dasar. Aksioma penelitian kuantitatif meliputi aksioma tentang realitas, hubungan peneliti dengan yang diteliti, hubungan variable, kemungkinan generalisasi, dan peranan nilai.

PERBEDAAN AKSIOMA ANTARA METODE KUALITATIF DAN KUANTITATIF

No
Aksioma Dasar
Metode Kuantitatif
Metode Kualitatif
1
Sifat realitas
Dapat diklasifikasikan,konkrit, teramati, terukur
Ganda, holistic, hasil konstruksi dan pemahaman
2
Hubungan peneliti dengan yang diteliti
Independen, supaya terbangun obyektivitas
Interaktif dengan sumber data supaya memperoleh makna
3
Hubungan variable
Sebab-akibat (kausal)
Timbal balik/interaktif
4
Kemungkinan generalisasi
Cenderung membuat generalisasi
Transferability (hanya mungkin dalam ikatan konteks dan waktu)
5
Peranan nilai
Cenderung bebas nilai
Terikat nilai-nilai yang dibawa peneliti dan sumber data



2.    Proses Penelitian
Perbedaan antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif juga dapat dilihat dati proses penelitian.Untuk dapat membedakannya, berikut penjelasan mengenai proses penelian kuantitatif dan kualitatif:

a.    Proses Penelitian Kuantitatif

Seperti telah diketahui penelitian pada dasarnya bertujuan untuk menjawab masalah, yaitu penyimpangan dari apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Peneliti terlebih dahulu mencari masalah, untuk dapat menggali masalah dengan baik, maka peneliti harus menguasai teori melalui membaca berbagai referensi. Selanjutnya supaya masalah dapat dijawab dengan baik masalah tersebut dirumuskan secara spesifik, pada umumnya dibuat dalam bentuk kalimat tanya. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut peneliti membuat dugaan sementara (hipotesis) untuk memberikan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
            Untuk menguji hipotesistersebut peneliti dapat memilih strategi/pendekatan/desain penelitian yang sesuai dan dirasa cocok dengan masalah yang diteliti.
            Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrument penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat berbentuk angket/kuisoner, untuk pedoman wawancara atau observasi.
            Setelah data terkumpul, maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis dengan menggunakan teknik statistik tertentu. Berdasarkan analisis ini dapat disimpulkan apakah hipotesis yang diajukan ditolak atau diterima, apakah sesuai dengan hipotesis atau tidak.
            Kesimpulan adalah langkah akhir dari suatu penelitian yang berupa jawaban terhadap rumusan masalah. Berdasarkan prosesnya dapat disimpulkan bahwa penelitian kuantitatif bersifat linier, dimana langkah langkahnya jelas, mulai dari rumusan masalah, berteori, berhipotesis, mengumpulkan data, analisis data dan membuat kesimpulan dan saran.

b.    Proses penelitian Kualitif

Tahap pertama penelitian kualitatif disebut tahap orientasi atau deskripsi, dengan grand tour  question. Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan segala informasi yang diperolehnya.
Tahap kedua yaitu disebut tahap reduksi/fokus. Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang telah diperoleh pada tahap I untuk memfokuskan pada masalah tertentu. Pada tahap ini peneliti menyortir data dengan cara memilih mana data yang menarik, penting, berguna dan baru. Data yang dirasa tidak dipakai disingk irkan.
Tahap ketiga yaitu tahap selection. Pada tahap ini peneliti menguraikan focus yang telah ditetapkan menjadi lebih rinci. Bila dibaratkan pohon, kalau tahap fokus itu baru pada aspek cabang, maka kalau pada tahap selection peneliti sudah mengurai sampai ranting, daun dan buahnya. Setelah peneliti melakukan analisis yang mendalam terhadap data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti dapat menemukan tema dengan cara mengkostruksikan data yang diperoleh menjadi suatu bangunan pengetahuan, hipotesis atau ilmu yang baru.
Hasil akhir dari penelitian kualitatif, bukan sekedar menghasilkan data dari informasi yang sulit dicari melalui metode kuantitaf, tetapi juga harus mampu menghasilkan informasi-informasi yang bermakna, bahkan hipotesis atau ilmu baru yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah dan meningkatkan taraf hidup manusia.

3.    Karakteristik Penelitian
Karakteristik penelitian kualitatif menurut Bogdan and Biklen (dalam Sugiyono, 2013, hlm. 21) adalah sebagai berikut:
a.    Dilakukan dalam kondisi yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen), langsung ke sumber data dan peneliti adalah instrumen kunci.
b.    Peneltian kualitatif lebih bersifat deskriptif. Data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar, sehingga tidak menekankan pada angka
c.    Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau outcome
d.    Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif
e.    Penelitian kualitatif lebih menekankan makna (data yang dibalik yang teramati).
Selanjutnya untuk memahami lebih jelas mengenai perbedaan karakteristik antara penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat dilihat dengan membandingkan antara kedua metode tersebut. Berikut dikemukakan perbedaan karakteristik antara metode kualitatif dan kuantitatif




KARAKTERISTIK METODE KUANTITATIF DAN KUALITATIF

No
Metode Kuantitatif
Metode Kualitatif
1
A.  Desain
a.    Spesifik, jelas, rinci
b.    Ditentukan secara mantap sejak awal
c.    Menjadi pegangan langkah demi langkah
A.  Desain
a.    Umum
b.    Fleksibel
c.    Berkembang dan muncul dalam proses penelitian

2
B.  Tujuan
a.    Menunjukan hubungan antar variable
b.    Menguji teori
c.    Mencari generalisasi yang mempanyai nilai prediktif
B. Tujuan
a. Umum
b. Fleksibel
c. Menggambarkan realitas yang kompleks
d. Memperoleh pemahaman makna

3
C.  Teknik Pengumpulan Data
a.    Kuisoner
b.    Observasi dan wawancara terstruktur
C. Teknik Pengumpulan Data
a. Participant observation
b.In depth interview
c. Dokumentasi
d. Tringulasi
4
D.  Instrumen Penelitian
a.    Test, angket, wawancara terstruktur
b.    Instrumen yang terstandar
D. Instrumen Penelitian
a. Peneliti sebagai instrumen
b. Buku catatan, tape recorder, camera, hendycam dan lain-lain
5
E.   Data
a.    Kuantitatif
b.    Hasil pengukuran variable yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrument
E. Data
a. Deskriptif
b. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dokumen dan lain-lain
6
F.   Sampel
a.    Besar
b.    Representatif
c.    Sedapat mungkin random
d.    Ditentukan sejak awal
F. Sampel
a. Kecil
b.Tidak resprentetatif
c. purposive
d. berkembang selama proses penelitan
7
G.  Analisis
a.    Setelah selesai pengumpulan data
b.    Deduktif
c.    Menggunakan statistik untuk menguji hipotesis
G. Analisis
a. terus menerus dari awal sampai akhir penelitian
b. Induktif
c. Mencari pola, model, tema, teori
8
H.  Hubungan dengan Responden
a.    Dibuat berjarak, bahkan sering tanpa kontak supaya obyektif
b.    Kedudukan peneliti lebih tinggi dari responden
c.    Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan
H. Hubungan dengan Responden
a. empati, akrab supaya memperoleh pemahaman yang mendalam
b. kedudukan sama bahkan sebagai guru, konsultan
c. Jangka lama, sampai datanya jenuh, dapat ditentukan hipotesis atau teori
9
I.     Usulan Desain
a.    Luas dan rinci
b.    Literatur yang berhubungan dengan masalah, dan variable yang diteliti
c.    Prosedur yang spesifik dan rinci langkah-langkahnya
d.    Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
e.    Hipotesis dirumuskan dengan jelas
f.      Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
I. Usulan Desain
a. Singkat, umum bersifat sementara
b. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama
c. Prosedur bersifat umum
d. Masalah bersifat sementara
e. Tidak dirumuskan hipotesis, karna justru akan menemukan hipotesis
f. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan
10
J.    Kapan penelitian dianggap selesai?
Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
J. Kapan penelitian dianggap selesai?
Setelah tidak ada data yang dianggap baru (jenuh)
11
K.  Kepercayaaan terhadap Hasil Penelitian
Pengujian validitas dan reabilitas instrumen
L.   Kepercayaaan terhadap Hasil Penelitian
Pengujian kredibilitas, dipenabilitas, proses dan hasil penelitian


Dari berbagai aspek karakteristik pembeda penelitian kuantitatif dan kualitatif.diatas yaitu  aksioma, proses penelitian dan karakter penelitian. Ada banyak hal yang membedakan penelitian tersebut. Untuk penggunaannya dalam penelitian tergantung kepada masalah apa yang ingin diteliti, informasi yang dimiliki, serta tujuan dari penelitian itu sendiri.
Antara metode kuantitatif dan kualitatif tidak perlu dipertentangkan mengenai yang mana yang lebih baik, karena mereka saling melengkapi dan masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Dan dewasa ini penelitian membutuhkan pendekatan dari kedua penelitan tersebut, hanya saja ada satu jenis diantaranya yang mendominasi tergantung dari pertimbangan si peneliti. Karena deskripsi tanpa data angka dirasa kurang objektif, dan angka untuk mengukur segalanya dianggap tidak manusiawi
























DAFTAR PUSTAKA

Sugiono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan (Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Suryabrata, S. (2012) Metodologi Penelitian. Jakarta: RajaGrafindo Pustaka.

Burhanudin, Arif. Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. [Online].


Langkah-langkah dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

PTK adalah salah satu jenis penelitian kualitatif, artinya lebih bersifat mendeskripsikan daripada melakukan perhitungan objektif seperti dalam penelitian kuantitatif. Dengan kata lain dalam PTK jarang menggunakan statistik, jadi ini kabar bagus bagi orang-orang yang phobia angka. Namun menurut hukum kesimetrisan dimana ada kebaikan pasti ada keburukan, PTK memiliki kerumitan pada saat membuat kesimpulan akhirnya, karena PTK bertujuan menyelesaikan/menyembuhkan (treatment) masalah. Jadi penelitian ini bisa ditarik kesimpulan hasil penelitiannya bila masalah sudah teratasi.
Berikut adalah 5 hal penting dalam prosedur penulisan penelitian PTK:
1.   Observasi awal
Observasi awal ini adalah tipe observasi deskriptif, dilakukan peneliti pada saat memasuki situasi di lapangan yang dipilih peneliti. Pada tahap ini peneliti belum membawa masalah yang akan diteliti, maka peneliti melakukan penjelajahan umum, dan menyeluruh, melakukan deskripsi terhadap semua yang dilihatm dudengar, dan dirasakan.
Oleh karena itu hasil observosi ini disimpulkan dalam keadaan belum tertata. Observasi ini disebut sebagai grand tour observation, dan peneliti menghasilkan kesimpulan pertama. Bila dilihat dari segi analis maka peneliti melakukan analisis domain, sehingga mampu mendeskripsikan semua yang ditemui.
2.   Perencanaan
Rencana merupakan hal yang terpenting sebelum melakukan tindakan penelitian ini diharapkan dapat memecahkan masalah yang terjadi didalam kelas. Dalam PTK perencanaan ini bersifat fleksibel, hal ini dikarenakan karena pada tengah jalan bisa jadi alur penelitian berbeda dengan apa yang telah direncanakan di awal. Dalam tahap ini peneliti menyusun serangkaian rencana kegiatan tinfakan yang akan dilakukan bersama guru mitra untuk mendapatkan hasil yang baik berdasarkan analisis masalah yang didiapat atas rencana yang direncanakan bersama-sama.
3.   Tindakan
Tahap ini merupakan realisasi dari segala teori pendidikan dan teknik mengajar yang telah disiapkan sebelumnya dalam perencanaan. Dalam tahap ini guru dituntut agar konsisten dengan segala perencanaan yang telah dibuat. Hal yang harus diperhatikan adalah menyelaraskan relevansi antara tahap perencanaan dengan tahap pelaksanaan agar sejalan dengan maksud awal.
4.   Observasi
Observasi didalam PTK mempunyai fungsi mendokumentasi implikasi tindakan yang diberikan pada siswa yang disini berperan sebagai subjek. Jadi, observasi mempunyai manfaat yang beranekaragam di dalam penelitian, seperti memiliki prospektif, memiliki dasar-dasar reflektif waktu sekarang, dari masa yang akan datang.
Dalam tahap ini pelaksanaan observasi atas pengamatan dilakukan bersamaan dengan dilaksanakan tindakan. Pada tahap ini peneliti melakukan peninjauan kembali terhadap siswa dan guru dikelas dan mencatat kekurangan dalam setiap tindakan yang dilakukan sebelumnya untuk direcisi menjadi perencanaan baru dan tindakan selanjutnya.
5.   Refleksi
Di dalamnya mendiskusikan kekurangan dalam tindakan dan pengaruhnya. Langkah ini merupakan bagian dari tahap diskusi dan analisis penelitiansesudah tindakan yang dilakukan sehingga memberikan arahan kepada perbaikan pada tindakan selanjutnya.
Tahapan ini merupakan tahapan untuk memposes data yang didapat pada saat melakukan pengamatan. Data yang dianalisis, lalu disentesiskan. Dalam beberapa proses pengkajian data ini, dimungkinkan untuk melibatkan orang luar sebagai kolabulator, seperti halnya pada saat observasi.

7/03/2013

Membuat Kartu Kuning (AK-1) untuk Persyaratan Kerja.


Hari ini gue mau cerita nih, tadi siang gue baru aja ngebuat SKCK sama Kartu Kuning buat yg pertama kalinya. And do you know guys? Ternyata mudah bangeuud. mending buat persyaratan kerja 10 kali deh daripa ngurus-ngurus pemasangan Baligo di kampus. Sumpah deh.

Ok, back to topic. pertama-tama kalian mesti tau dulu "apa aja sih persyaratan cari kerja". berikut gue bikin list nya.
1. ijazah tetinggi yg pernah didapet.
2. sertifikat yg berhubungan sama pekerjaan yg lo lamar.
3. fotocopy KTP 
4. SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian)
5. Kartu kuning (AK-1)
6. Surat lamaran kerja.
7. and dont forget about CV (Curriculum Vitae)

nah dari berbagai persyaratan diatas, semuanya pasti udah ada dirumah dan bisa dibuat sendiri. kecuali Kartu Kuning, SKCK sama Ijazah tentunya. Oya kalo gak punya ijazah jangan maksain buat sendiri ya guys. mesti penuh perjuangan buat mendapatkannya. heheheeh :p

Jreng, jreng, jreng, jreng and now time to main topic.

Cara membuat Kartu Kuning (AK-1)
kartu kuning (AK-1) adalah kartu yang dikeluarin oleh Depnakertrans dan menjadi salah satu syarat untuk melamar kerja yang paling penting. Selain itu kartu kuning juga berfungsi buat ngehitung jumlah tenaga kerja di Indonesia. Dan yg paling penting dan paling menguntungkan adalah...................para perusahaan sama lembaga-lembaga yg butuh tenaga kerja bakal minta data-data kartu kuning ke Depnakertrans. Moga aja lo dapet panggilan dari perusahaan buat disuruh kerja. Kan enak ga perlu jalan sana-sini, ampe keringat lo jadi banjir bandang buat ngelamar.
Multi fungsi banget ya ini AK-1. Hebat lah pokoknya mah.

Berikut adalah penampakan dari kartu kuning yang gue search di google.





Ok, sebelumnya persiapin ini dulu dari rumah ya:
1. fotocopy KTP
2. pas foto 2x3 dua biji aje
3. ballpoint (pulpen)
4. ijazah terakhir lo
5. sama niat dan siapin uang 10 rebu (buat jaga-jaga aja sih soalnya tadi gue bikin gratisss)

Habis semua persiapan udah siap selanjutnya kamu mesti melakukan langkah-langkah sbb:
1. Siapkan niat dan cari tau alamat Dipartemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (DEPNAKERTRANS). kan ga lucu kalo semuanya udah siap tapi lo nyari-nyari tuh dinas berjam-jam. udah ketemu alamatnya dinas nya udah tutup. kan berabe.
2. Datang ke Depnakertrans dengan hati-hati. Jangan sampe ugal-ugalan ya, hormati pengguna jalan yang lain. Nah loh!!!!
3. Mintalah formulir kepada petugas.
4. Isilah formulir dengan jujur dan apa adanya. Jangan ditambah-tambahin ya. Ntar bakal ada pengawas yang bakal ngebimbing lo dalam ngisi formulir. jaga-jaga aja kalo lo ga bisa ngisi ato gak ngedadak amnesia. hahahaha.
 Di dalemnya ada juga jabatan yg diinginkan sama gaji yg diinginkan loh. Ntar berguna buat perusahaan kalo butuh pegawe baru.
5. Kasiin kembali Formulir disertai fotocopy KTP sama pas foto 2x3 ke petugas disana. duduk ditempat yg telah disediakan, ngerokok-rokok lah kalo lo bete.
6. Siapkan telinga dengan baik. karena ntar petugas nya bakal teriakin nama lo. kan bakal disebut TULI, BONGE, TOREK, GOBLOK kalo lo ga nyamperin. Jangan sampe terjadi ya, takutnya lo ga kuat menanggung hukuman sosial dari orang-orang sekitar lo disana.
7. setelah nama lo dipanggil, kemudian tanda-tanganin AK-1 yang udah jadi, habis tanda tanganin terus bergegas ke fotocopy terdekat buat ngelegalisir.
8. setelah selesai memfotocopy. kembali lagi ke kantor Depnakertrans, kasiin fotocopian AK-1 nya, mereka bakal legalisir. dan udah deh beres. Gratis tis tis tis. Tadi pas gue nanya ke petugasnya dengan bahasa sunda yg sopan dan benar
Gue        : "Atos ieu teh pak".
Petugas   : "Teu langkung"
maksud dari kata "teu langkung" adalah terserah. Dia menempatkan gue pada suatu keadaan yg canggung dan adalah sebuah pilihan yang dilematis buat gue antara ngasih uang dan langsung pulang, ato pulang dulu terus ngasi uang. Namun pada akhirnya naluri enterpreneur gue membimbing gue buat menggunakan modal sebaik-baiknya, jgn diboroskan pada hal-hal yg tidak terlalu prioritas. Dan akhirnya gue pun pulang dan misi membuat AK-1 Acomplisshed.


Itu adalah pengalaman gue membuat kartu kuning di Depnakertras Kab. Garut. Tiap daerah punya pelayanan pembuatan AK-1 yg berbeda-beda. Jadi persiapkan segalanya ya. Kalo perlu ijazah dari TK sampe Kuliah.

Thats it. Ada sebuah pepatah sunda mengatakan "Hirup mah kudu Meurih meh meunang Peurah". translae in pake Bahasa jadi "Hidup itu harus perih agar punya bisa"
Jadi bercape-cape dahulu ya bikin persyaratan kerja kaya ginian, dan yakinlah suatu saat semuanya akan indah pada waktunya. HeHeHe :p

OK guys nama gue Rifal Nurkholik, selamat membuat AK-1!! (ala stand up comedy ceritanya)

6/01/2013

Resensi The Limith to Growth. Meadows dkk

The Limit to Growth adalah sebuah buku pada tahun 1972. Buku ini merupakan hasil penelitian yang disponsori oleh sekelompok orang dengan berbagai latar belakang keahlian dan profesi yang terwadahi dalam forum bernama The Club of Rome. Studi dilakukan oleh perguruan tinggi terkenal di Amerika Serikat, Massachusetts Institute of Technology (MIT) dibawah pimpinan Dennis L Meadows. Inti dari laporan The Limit to Growth adalah desakan kepada dunia agar pertumbuhan ekonomi dibatasi atau dikendalikan secara sadar. Juga didesak agar diciptakan konsensus untuk merumuskan zero growth dalam penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan.
            Laporan MIT kepada the Club of Rome dalam buku The Limit to Growth pada awalnya sempat menggegerkan dunia, namun dengan berjalannya waktu, perhatian terhadap buku ini makin tidak terdengar dan akhirnya padam juga. Dunia kembali tenang dan pertumbuhan terus meningkat seakan-akan sumber daya alam tidak pernah akan habis.
            Untuk menjelaskan persoalan yang dihadapi dunia, MIT merumuskan lima persoalan dunia yang dijadikan unsur dalam model MIT, yaitu pertumbuhan industri yang sangat cepat, pertumbuhan penduduk dengan laju yang tinggi, kelaparan yang makin meluas, menipisnya sumber daya alam tak terbarukan dan kerusakan lingkungan.
            Laporan MIT dalam buku the Limit To Growth menarik perhatian saya karena kelangkaan sumber daya alam yang tidak terbarukan dijadikan salah satu permasalahan dunia. Unsur kelangkaan sumber daya alam yang tidak terbarukan ternyata tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan dengan empat unsur yang lain yaitu permasalahan pertumbuhan industri, pertumbuhan penduduk, kelaparan dan kerusakan lingkungan.
            Sebagaimana dikemukakan dalam laporan MIT, kelima persoalan dunia tersebut satu dengan yang lain saling mempengaruhi dengan pola yang sangat kompleks. Model yang dikembangkan oleh MIT bertujuan untuk menjelaskan keterkaitan kelima unsur yang sangat kompleks tadi. Penjelasan ini dianggap penting karena banyak negara mengabaikan keterkaitan antara lima persoalan yang dikemukakan oleh MIT tersebut. Sebagai contoh, banyak negara beranggapan akan dapat mengentaskan kemiskinan dengan melakukan eksploitasi sumber daya alam tanpa mengindahkan kelestarian alam. Mereka melupakan bahwa ada keterkaitan antara kemiskinan dengan kerusakan lingkungan.
            Di Indonesia sendiri orang belum merasa perlu untuk membahas masalah kelangkaan sumber daya alam dalam kaitan dengan permasalahan nasional yang lain. Kebijakan negara tentang sumber daya alam di Indonesia belum berada dalam posisi ‘siaga’ (alert) tentang akan datangnya kelangkaan sumber daya alam yang tidak terbarukan di masa depan. Permasalahan sumber daya alam di Indonesia sampai sekarang masih berkisar pada pertumbuhan investasi, pertumbuhan eksport dan pertumbuhan pendapatan negara. Antisipasi terhadap kelangkaan sumber daya alam belum mendapat perhatian.
            Dalam bidang mineral, kebijakan negara selama ini juga masih terfokus pada permasalahan pertumbuhan investasi, pertumbuhan eksport dan pertumbuhan pendapatan negara. Kebijakan negara dalam bidang sumber daya mineral belum dikaitkan dengan permasalahan kemiskinan dan kebijakan industrialisasi. Bahkan kaitan antara kebijakan sumber daya mineral dengan kebijakan perlindungan lingkungan juga masih bersifat ad hock, belum terinegrasi.
            Sebenarnya negara-negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam bukannya tidak menyadari adanya persoalan dunia yang kait mengkait sebagaimana dilaporkan oleh MIT kepada the Club of Rome. Namun meskipun menyadari, banyak negara yang tidak berdaya untuk tidak mengejar pertumbuhan yang tinggi dalam eksploitasi sumber daya alam. Tekanan pasar dan kebutuhan pendanaan pembangunan di dalam negeri merupakan daya dorong untuk terus meningkatkan pertumbuhan eksploitasi sumber daya mineral di negara berkembang.
            Lepas dari peran sistem ekonomi yang kita pelajari dari, ada kenyataan bahwa selama beberapa dekade terakhir peran ekonomi ternyata dijalankan oleh organisasi-organisasi usaha. Organisasi usaha yang menjalankan ekonomi dunia merupakan perusahaan-perusahaan besar yang mencakup semua kebutuhan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh manusia. Perusahaan skala sangat besar ini beroperasi di berbagai negara tanpa terkendala oleh batas-batas kedaulatan negara. Perusahaan besar yang beroperasi lintas negara tersebut sering disebut disebut Trans National Corporation (TNC).
            TNC tidak hanya besar tetapi juga memiliki kekuatan dan kekuasaan yang luar biasa besar. Mereka memiliki segalanya: dana, teknologi, pasar, akses ke kekuasaan dan segala macam informasi. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, TNC dapat berbuat apapun untuk mewujudkan apa yang diinginkan.
            Dengan hadirnya TNC maka teori ekonomi yang kita pelajari di bangku sekolah tidak berjalan murni lagi. Pasar tidak lagi mencerminkan kebutuhan konsumen tetapi merupakan cerminan dari keinginan TNC. Mereka dapat mendiktekan apa yang mereka inginkan menjadi apa yang dibutuhkan oleh konsumen. TNC tidak hanya menguasai sistem pasar dan sistem produksi, tetapi juga menguasai sistem kehidupan manusia di bumi ini. Setiap aspek dalam kehidupan masyarakat ditentukan oleh apa yang menjadi keinginan TNC. Makanan yang dimakan orang, pakaian yang dikenakan, kendaraan yang digunakan, semuanya ditentukan oleh TNC. Bukan itu saja, gaya hidup dan keyakinan orang juga dipengaruhi oleh apa yang diinginkan TNC.
            Orang boleh berargumentasi bahwa masih ada negara yang berkewajiban melindungi rakyatnya terhadap keinginan pasar yang merugikan. Yang menjadi persoalan adalah bahwa negara tidak selalu beranggapan bahwa pertumbuhan pasar sebagai sesuatu yang merugikan rakyat dan negara. Negara justru beranggapan bahwa pertumbuhan adalah untuk kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan telah dijadikan merupakan parameter keberhasilan pembangunan yang menghasilkan kesejahteraan rakyat.
            Salah satu faktor pertumbuhan ekonomi yang diupayakan terus meningkat adalah investasi. Investasi harus terus tumbuh agar dapat memberi lapangan pekerjaan, pemasukan devisa dan pajak. Dalam bidang apa investasi harus dilakukan tidak terlalu dimasalahkan. Bagaimana dampak dari inevstasi terhadap kehidupan rakyat juga tidak perlu menjadi halangan untuk menerima investasi.
            Makanan siap saja seperti burger dari McDonald merupakan investasi yang membuka peluang kerja dan meningkatkan pendapatan negara. Masalah apakah burger merupakan makanan yang sehat atau tidak sehat, tidak perlu dipermasalahkan. Dengan dibukanya toko burger McDonald di mana-mana dianggap sebagai petunjuk keberhasilan pembangunan yang mensejahterakan rakyat.
            Apa yang terjadi kalau sikap terhadap pertumbuhan McDonald tadi diterapkan pada bidang industri sumber daya alam pada umumnya dan sumber daya mineral pada khususnya? Di mana letak kesalahannya kalau negara memacu pertumbuhan eksploitasi sumber daya alam yang bukan saja meningkatkan pendapatan pajak tetapi juga pendapatan devisa dan lapangan pekerjaan? Di sini kita perlu kembali ke model yang dikembangkan oleh MIT tentang keterkaitan antara pertumbuhan dengan persoalan kemiskinan, jumlah penduduk dan seterusnya.
            Para konservasionis pernah mengusulkan agar dalam hal eksploitasi sumber daya alam yang tidak terbarukan konsep mekanisme pasar tidak digunakan lagi. Dengan lain perkataan para konservasionis mengusulkan agar negara yang memiliki sumber daya alam menentukan sendiri tingkat produksi dan tingkat pertumbuhan eksploitasi sumber daya alam yang terbaik bagi negara dan rakyatnya. Dengan lain perkataan para konservasionis ingin mengatakan agar negara tidak mengacu pada kebutuhan TNC tetapi pada kebutuhan rakyatnya.
            Mungkinkah konsep para konservasionis diatas diterapkan? Sumber daya alam yang tidak terbarukan pada umumnya terdapat di negara-negara berkembang. Negara berkembang yang sedang membangun memerlukan investasi, memerlukan devisa dan memerlukan peningakatan pendapatan negara. Negara berkembang tidak memiliki apapun sebagai modal pembangunan selain apa yang diberikan oleh alam.
            Banyak negara berkembang yang berpendapat bahwa pertumbuhan adalah kebutuhan sekarang yang diperlukan untuk memberi makan, pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi dan segala bentuk kebutuhan rakyat yang lain. Pertumbuhan bukan masalah nanti yang dapat ditunda atau atau dibatasi. Kebijakan jangka pendek ini sangat sesuai dengan kebutuhan para politisi yang mengendalikan negara serta sesuai pula dengan kehendak TNC. Akibatnya kebijakan sumber daya alam selalu merupakan kebijakan yang bersifat ad hock.
            Dengan argumentasi diatas maka banyak negara berkembang menganggap kata konservasi merupakan sesuatu yang jauh dari jangkauan, merupakan sesuatu yang berada di awang-awang. Minyak dan gas bumi, mineral dan hutan adalah untuk hari ini dan bukan untuk hari nanti. Oleh karena itu pertimbangan masa depan dapat ditunda dulu.
            Kepentingan memang memiliki dimensi waktu dan dimensi ruang. Dari pengalaman maupun dari hasil penelitian kita mengetahui bahwa kebanyakan orang, organisasi ataupun negara lebih mengedepankan kepentingan dengan dimensi waktu pendek dan kepentingan dengan dimensi ruang yang sempit. Seorang ayah atau ibu sibuk dengan usahanya (kepentingan sempit dan waktu pendek) sehingga melupakan pendidikan anaknya yang merupakan kepentingan lebih luas pada jangka yang panjang. Sebuah bangsa dan negara dapat terjebak pada kepentingan dan permasalahan masa kini yang sempit sehingga melupakan kepentingan jangka panjang dan kepentingan lebih besar. Pertumbuhan yang dikejar oleh negara pada umumnya merupakan kepentingan jangka pendek dengan sasaran-sasaran kepentingan yang lebih sempit.
            Selama ini Indonesia juga menganut paham pertumbuhan sebagai kepentingan jangka pendek dengan sasaran-sasaran kepentingan yang sempit. Indonesia pernah menganut paham pertumbuhan at all cost. Dalam periode tahun 1966 sampai 1998 Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan bayaran masa depan bangsa yang sangat mahal.
            Sejak tahun 1970-an telah terjadi perdebatan tentang dilema antara pertumbuhan dengan konservasi lingkungan dan sumber daya alam. Perdebatan secara informal di kalangan akademisi terus berlangsung secara intensip dan juga makin meluas. Belakangan perdebatan pada tataran akademis yang tidak formal masuk dalam agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
            Berbagai teori dan konsep pembangunan diusulkan sebagai jalan keluar dari dilema pertumbuhan dengan konservasi. Salah satu jalan keluar yang diperkenalkan oleh PBB adalah konsep Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development). Konsep Pembangunan Berkelanjutan dari PBB ini dari waktu ke waktu mengalami perubahan dengan tujuan agar sesuai dengan kebutuhan.

            Orang boleh marah-marah sambil bertanya kepada negara: Mengapa demikian? Di lain pihak orang juga dapat bersedih sambil bertanya: Mengapa demikian? Mengapa sesuatu yang telah disepakati tidak diterapkan? Mengapa negara tidak melakukan perubahan dalam melakukan eksploitasi sumber daya alam? Jawaban dari pertanyaan ini tentunya berada di luar lingkup buku ini.