12/26/2017

Eksperimen Alami Manusia: Moriori vs Maori

Melanjutkan tulisan sebelumnya, kali ini saya akan menuliskan sebuah cerita yang akan masuk kategori label CERITA ORANG YANG PERNAH AING DENGAR. Cerita ini pertama kali saya tahu dari seorang dosen bernama Pak Asep di mata kuliah Kependudukan aka Demografi aka Geografi Sosial saat mengempu pendidikan S1 di UPI Bandung.

Tidak seperti postingan sebelumnya, kali ini saya tidak akan memakai sudut pandang pencerita, tetapi lebih ke mendeskripsikannya secara naratif tanpa dialog.

Pada saat menulis ini, di saat bersamaan saya juga googling agar meminimalisir kesalahan pada penulisan nama tempat, tahun & pengejaan.

Berikut adalah cerita "Eksperimen Alami Manusia". Check this out!

______________

Andai kamu seorang ilmuwan yang ingin melakukan penelitian dengan tema "pengaruh lingkungan terhadap makhluk hidup", apa yang akan kamu lakukan?

Biasanya ilmuwan akan ke laboratorium untuk melakukan tes seperti dengan mengambil satu koloni tikus, membagi tikus leluhur itu ke beberapa kelompok dalam kandang dengan lingkungan berbeda-beda, biarkan beberapa lama, kemudian kembali setelah banyak generasi tikus untuk melihat apa yang terjadi.

Voala, jadilah suatu jawaban terhadap hipotesis awal.

Namun bagaimana dengan manusia? Percobaan seperti itu tentu saja tidak dapat dilakukan terhadap masyarakat manusia. Sebagai gantinya para ilmuwan harus mencari "eksperimen alami", di mana kejadian serupa pernah terjadi terhadap masyakat manusia di masa lalu.

Mikronesia, Malanesia dan Polinesia
Satu eksperimen seperti itu berlangsung selama proses pemukiman Polinesia. Ribuan pulau yang sangat beragam dalam hal luas wilayah, keterpencilan, ketinggian, iklim, produktivitas, dan sumber daya geologis dan biologis tersebar di Samudera Pasifik setelah Papua dan Milenesia. Hampir sepanjang sejarah manusia, pulau-pulau tersebut berada di luar jangkauan kendaraan air.


Nenek Moyang Yang Sama

Sekitar tahun 1200 SM sekelompok orang dari kepulauan Bismarck di sebelah utara Papua (di peta di atas Bismarck Archipelago) yang cakap dalam hal bertani, mencari ikan, dan melaut akhirnya berhasil mencapai salah saru pulau di Polinesia. Selama berabad-abad kemudian, keturunan mereka menduduki nyaris setiap potong tanah yang dapat dihuni di wilayah Pasifik. Proses tersebut hampir tuntas seluruhnya pada 500 SM, dengan sisa hanya segelintir lagi pulau yang belum dihuni.

Jadi, dalam kurun waktu yang singkat, pulau-pulau dengan lingkungan yang sangat beragam telah didiami oleh para kolonis yang semuanya berasal dari populasi awal yang sama. Kaum leluhur semua orang Polinesia modern ini pada dasarnya memiliki kebudayaan, bahasa, teknologi, serta tumbuhan budidaya dan hewan ternak yang sama. Dengan demikian sejarah Polinesia merupakan suatu eksperimen alami yang memungkinkan kita mempelajari proses adaptasi manusia tanpa harus menghadapi berbagai kerumitan terkait dengan kolonialisasi bergelombang oleh suku bangsa yang berbeda, yang sering kali mempersulit upaya kita untuk memahami proses adaptasi di bagian lain dunia.

__________________

New Zealand & Chatham Islands

Seperti yang dituliskan di judul artikel, pembahasan kali ini akan membahas suku Moriori yang tinggal di Kepulauan Chatam dan suku Maori di pulau utara Selandia Baru

Suku Moriori

Walaupun nenek moyang suku Moriori yang tiba di Kepulauan Chatham mungkin saja petani, tumbuh-tumbuhan tropis yang mereka bawa tidak tahan menghadapi iklim dingin di Kepulaun Chatam, sehingga bagi mereka tidak ada jalan lain selain kembali menjadi pemburu-pengumpul. Berhubung mereka sebagai pemburu-pengumpul tidak menghasilkan surplus panen yang dapat direstribusikan atau disimpan, mereka tidak dapat menopang dan memberi makan tukang, prajurit, dan kepala suku yang tidak ikut berburu. Dengan kata lain, profesi dari masyarakat Moriori tidak variatif.

Selain itu, Kepulaun Chatam terdiri atas pulau-pulau yang relatf kecil dan terpencil, sehingga hanya dapat menopang populasi keseluruhan sekitar 2.000 orang pemburu-pengumpul.

Tanpa adanya pulau-pulau lain yang dapat dikolonialisasi, orang Moriori terpaksa tinggal di Kepulaun Chatham dan belajar hidup berdampingan. Mereka melakukannya dengan tidak melakukan peperangan, dan mereka mengurangi potensi kelebihan jumlah penduduk dengan mengebiri anak laki-laki. Hasilnya adalah populasi kecil yang tidak suka berperang, dengan teknologi dan senjata sederhana, tanpa kepemimpinan atau organisasi yang kuat.

Suku Moriori

Suku Maori

Suku Maori tinggal di bagian utara Selandia Baru, yang merupakan kelompok pulau terbesar di Polinesia. Karena letaknya yang lebih dekat dengan khatulistiwa bila dibandingkan dengan pulau Chatham, udara di bagian utara Selandia Baru menjadi lebih hangat yang cocok untuk pembudidayaan tanaman. Dengan surplus panen yang berhasil mereka produksi dan simpan, mereka dapat memberi makan tukang, kepala suku dan prajurit paruh waktu. Dengan kata lain, profesi orang-orang Maori lebih variatif.

Mereka memerlukan dan mengembangkan berbagai perkakas untuk bercocok tanam, bertempur, dan membuat benda seni. Mereka mendirikan bangunan upacara yang megah dan benteng dalam jumlah besar. 

Orang Maori yang tinggal di Selandia Baru terus bertambah, sampai mencapai jumlah 100.000 jiwa. Mereka mengembangkan populasi-populasi lokal yang padat, yang senantiasa berperang dengan sengit melawan populasi-populasi tetengga. 

Orang-orang Maori. Tough Kids.
_____________________

Jadi, masyarakat Moriori dan masyarakat Maori berasal dari masyarakat awal yang sama, namun tumbuh mengikuti jalur yang sangat berbeda. Kedua masyarakat yang kemudian terbentuk itu pada gilirannya  tidak lagi menyadari kehadiran yang lainnya dan tidak saling berhubungan selama berabad-abad.

Konfrontasi
Sampai pada suatu waktu, satu kapal pemburu anjing laut dari Australia ada yang mampir ke kepulauan Chatham.

Kemudian saat dalam perjalanan pulang ke Australia, kapal tersebut mampir di Selandia Baru dengan membawa kabar kurang lebih seperti ini:

Ada sebuah pulau di sebelah timur Selandia Baru yang mempunyai ikan-ikan dan kerang-kerang yang berlimpah, danau yang dipenuhi belut, buah beri keraka yang tumbuh dimana-mana.
Penduduknya sangat banyak, tetapi mereka tidak mampu bertempur dan tidak memiliki senjata.

Berita tersebut cukup untuk mendorong 900an orang Maori untuk berlayar ke Kepulauan Chatham.

Hasil pertemuan tersebut menggambarkan dengan jelas bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi perekonomian, teknologi, organisasi politik, serta kemampuan tempur dalam waktu singkat.

KESIMPULAN

Faktor yang membentuk perbedaan antara masyarakat Moriori & Maori adalah setidaknya enam variabel lingkungan:
1. Iklim pulau.
2. Jenis pulau dari segi geologi.
3. Sumber daya kelautan.
4. Luas wilayah.
5. Fregmentasi medan.
6. Tingkat keterpencilan.

__________________

Untuk membaca artikel lain seperti ini, kalian bisa klik label CERITA ORANG YANG PERNAH AING DENGAR. Di sebelah kanan bila menggunakan desktop, di sebelah bawah bila menggunakan smartphone.

__________________

Thanks for visit. See you next post!

__________________

Sumber Data:

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Moriori
https://www.newzealand.com › Beranda › Fakta tentang Selandia Baru › Sejarah
https://maorisgenocide.weebly.com/-maori-vs-moriori.html

12/21/2017

Anak Indonesia pindah ke U.S.A

Semakin bertambahnya umur, gue semakin merasa kalau kehidupan gue semakin sini semakin hambar, hari ke hari ya b aja gitu. Kalau kata Adri di PAM:
Hal yang bagus-bagus dalam hidup itu, ya yang ada di belakang semua, yang di depan itu tinggal sisanya. Iya, cuma ampas doang. Makannya orang-orang seneng banget buat nostalgia dan ngebayangin gimana rasanya kalo bisa kembali ke masa lalu. Wish we can turn back time, and any other similiar bullshit. 
Kenapa? Soalnya yang di depan tinggal tai-tai sisa doang."
Gue juga gitu, merasa kalau hidup gue yang sekarang itu tinggal tai-tai sisa doang, gak ada menarik-menariknya kalau dibandingkan dengan hidup gue di masa lalu kaya yang pernah dituliskan di label PERSONAL LIFE.

Karena kehidupan yang biasa-biasa inilah,  gue merasa kehabisan bahan untuk nulis. Padahal dulu yah, pas awal nulis di blog ini, gue punya filosofi gini "before I too old to remember every good things in life. I write it."  *Badass abis

Hari ini gue mikir dan dapat pencerahan kaya gini


Gak harus semuanya cerita berasal dari gue, ada loh cerita-cerita dari orang lain yang pernah gue denger, yang seru, yang ada pesan moral, yang asik buat ditulis, yang nanti pasti bakal pengen gue inget ulang. 
Dari pada maksa merubah hidup jadi menarik, mending banyakin denger cerita orang yang menarik, terus diinget baik-baik. 
Just in case kalau jadi Senpai, terus butuh cerita-cerita berisi petuah buat orang-orang yang lebih muda. Gue tinggal dongengin mereka dengan cerita-cerita yang pernah gue denger dari orang aja." 

Ok, I got it.

Jadi sekarang gue berniat untuk menuliskan berbagai cerita yang gue pernah denger dari orang lain, tentunya dengan terlebih dahulu memilah-milah mana yang seru, ada pesan moral  dan asik buat ditulis. Sebelum nanti ada kemungkinan gue melupakannya

______________________________

Ngomong-ngomong soal melupakan nih. Gue punya asumsi kalau perkembangan teknologi informasi dewasa ini  berpengaruh terhadap daya inget seseorang dalam kehidupan sosialnya. Soalnya ini kejadian di gue, gak tau kalau orang lain.

Jadi gini, aku bisa jelasin.

Menurut gue, di era internet dan social media kaya sekarang ini, berbagai informasi penting dan gak penting selalu bisa sampai ke jangkauan tiap orang. Gue sendiri selalu betah untuk ngeklik-klik LINE TODAY atau ngescroll Twitter, walau gue sendiri sebenernya udah bisa meramalkan kalau isi dari berita-berita tersebut gak penting-penting amat buat gue tau. 

Malah kayanya gara-gara keseringan baca informasi yang gak penting-penting amat, gue kadang melupakan cerita-cerita dari orang-orang sekitar.

Sering kejadian pas ngobrol sama temen, terus dia cerita sesuatu yang baru tapi nyambung sama cerita yang lama, gue suka lupa akan kejadian yang dulu terus minta diceritain dari awal. Lalu pas temen gue mulai cerita dari awal, gue kemudian mudeng dan menyetop pembicaraan dia sambil bekata "Oh nu eta, aing inget sekarang."

Kalau gak diceritain ulang, kayanya ada bahan bakal lupa semua aja gitu. Berasa jadi orang pikun, beneran.

Sebelum melupakan cerita yang sebenernya ingin gue inget, mumpung sekarang masih inget, gue ingin menuliskan cerita-cerita yang menurut gue penting untuk terus diingat (bukan personal life, tapi lebih ke cerita orang), sebelum ingatan ini terhapus karena ke-distract oleh berita-berita receh di LINE TODAY.

Ini sih mending. Biasanya judul artikelnya clickbait banget, kaya "7 Cara Blablabla, no 5 Mengejutkan."
Sampai sekarang type judul kaya di atas selalu membuat gue tergoda. Cih.

_______________________________________

Langsung yah.

Jadi gini, gue denger cerita ini dari Pak Hilmi, dosen gue di UNIGA saat matrikulasi pada bulan Agustus 2017. Gue akan mencoba  bercerita dari sudut pandang Pak Hilmi saat mengajar di kelas. 

Nama pemeran utama Pak Dadang (nama samaran), sebenarnya karena gue lupa namanya siapa. hehe

Aku mulai!

_______________________________________

SUDUT PANDANG PAK HILMI

Saya punya temen namanya Pak Dadang, lebih tua sekitar 10 tahunan dari saya. Dia berprofesi  sama seperti saya, seorang dosen juga. Sekarang Pak Dadang jadi guru besar di salah satu Universitas Swasta di Bandung. 

Sekitar tahun 1995 atau 1996, saya lupa lagi tahunnya, pokoknya sekitar tahun itu. Dia mendapat tawaran untuk meneruskan pendidikan S3 di University of Massachusetts, US. Tau US? Amerika atuh bisi teu apal mah.

*Mahasiswa ketawa lemah*



Dia kepengen pergi ke sana, tapi Pak Dadang bingung, soalnya pendidikan S3 saat itu bakal menghabiskan waktu lama. Dia lalu birundinglah sama keluarganya,

"Mamah, papah kan ingin nerusin sekolah ke Amerika nih. Nanti papah pindah  ke sana sendirian, atau mamah sama ade juga ikut."

Oke kita skip aja perbincangannya, pokoknya akhir keputusannya gini, istri dan anaknya yang masih SD akan dibawa ke Amerika. 

Deal weh mereka tiluan!

Swiiiing, sampailah mereka di Amerika. Si bapak kuliah, si ibu ngurusin kebutuhan rumah tangga, si anak sekolah. Sampai sini, normal.

Seminggu kemudian, ada keanehan. Si anak tiba-tiba gak mau sekolah.

Lah, kok?

Ditanya dong Si Anak sama Pak Dadang. "Kenapa ade sekarang tiba-tiba gak mau sekolah?"

Si anaknya diem aja sambil jamedud.

Anak Pak Dadang jamedud

Serba salah jeng budak mah, ditanya moal ngajawab, diambekan bakal ceurik sabari angger moal ngajawab.

Terus Pak Dadang menyimpulkan, kayanya anaknya alami culture shock sama budaya di Amerika.

"Biarin aja dulu, nanti ge bakal mau sekolah. Culture shock mah sama kaya homesick, obat terbaik adalah waktu. Tsaaah" pikir Pak Dadang.

Dia diemin aja anaknya, gak dipaksa-paksa buat sekolah.

_______________

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, masih, gak ada perubahan. Si anak belum mau sakola wae.

Pak Dadang kasihan juga ngeliat anaknya di rumah terus seharian selama beberapa bulan. Takut anaknya jadi bodoh, Pak Dadang kemudian memutuskan bahwa sekarang sudah waktunya untuk mengurus pengundurkan diri anaknya dari sekolah, terus rencananya akan belajar Homeschooling. 

________________________________


Pak Dadang bawa anaknya ke sekolah, buat mengurus administrasi pengunduran diri.

Elementary School

Di sekolah, si petugas Administrasi, mun di dieu mah petugas TU. Petugas itu ngomong gini sama Pak Dadang. 

"Sebelum mengurus pengunduran diri, lebih baik berkonsultasi dulu dengan kanselor sekolah, Pak." kata petugas Administrasi.

Kanselor teh guru BK mun di Indonesia mah.

*mahasiswa ngangguk-ngangguk*

 Pak Dadang bersama anaknya berjalan ke ruang konseling.

"Silahkan duduk, pak" kata Ibu kanselor.

Setelah dipersilahkan. Pak Dadang beserta anaknya duduk di kursi yang berhadapan dengan ibu kanselor.

"Baik, ada yang bisa saya bantu, pak?" tanya Ibu Kanselor

"Buk, gimana nih anak saya udah beberapa bulan gak mau sekolah. Saya ingin mengurus pengunduran diri anak saya. Saya ingin Homeschooling aja." kata pak Dadang.

"Sebentar dulu pak, kalau saya lihat-lihat anak anda, sepertinya kelihatan baik-baik saja, cuma sepertinya kurang percaya diri." kata guru Konseling.

'Si anjing, cuma. Ieu geus babaraha bulan budak urang embung sakola gara-gara cuma kurang percaya diri.' kata pak Dadang dalam hati.

"Jadi, gimana baiknya bu?" Tanya pak Dadang.

"Sebentar, saya lihat dulu kelas anak Bapak di mana." kata Ibu Kanselor sambil buka-buka berkas.

"Baik, saya pinjem dulu anaknya yah, pak? Bapak bisa ikuti saya!" Bu Kanselor melanjutkan

Berjalanlah mereka bertiga dari ruang kanselor ke ruang kelas. 

"Oke pak, saya bawa anaknya masuk. Bapak bisa melihat-lihat dari sini."

Di sekolah anaknya Pak Dadang di negara bagian Massachusetts mah, jadi kaca jandela ruang kelas Elementary School na teh ada sebagian yang  kaya ruang interogasi, dari dalem gak kelihatan ke luar, dari luar keliahatan ke dalem. 

Pak Dadang merhatiin weh dari luar.

Ibu Konselor masuk ke dalam kelas sambil megang tangan anak Pak Dadang, mereka berdua berdiri di depan anak-anak lain. Terus Bu Kanselor ngomong gini.

"Mohon perhatian! Anak-anak, sekarang kita kedatangan teman baru."

Si anak Pak Dadang kan minder yah, nunduk weh ninggali ke bawah. Kurang PD.

"Anak-anak, kita sekarang punya temen baru!"


"Di sini ada yang tau daerah tropis, daerah yang udaranya hangat, tanahnya luaaar biasa subur dan tak ada musim dingin?" Bu konselor nanya ke murid-murid di kelas.

"Seperti hutan Amazon bu?" salah satu siswa cowok nyeletuk.

"Ya, seperti Amazon di Brazil, ada yang pernah ke daerah tropis seperti Brazil?" tanya Bu Kanselor.

Ada dua atau tiga siswa mengacungkan tangan, sisanya geleng-geleng. Beberapa siswa berbisik-bisik menduga-duga.

"Nah, teman baru kita ini berasal dari negeri dengan iklim tropis."

Siswa-siswa berhenti berbisik, pandangan mereka lurus ke depan mengamati anak Pak Dadang dengan seksama. Siswa-siswa bule di kelas itu terkagum-kagum bahkan ada yang nyeletuk "Awesome!", "Cool!". 

Anak Pak Dadang masih nunduk, namun matanya mulai ngintip-ngintip melihat anak-anak di kelasnya yang merhatiin dia.

Ada salah satu siswa bule nanya "Is he from Brazil?"

Bu kanselor menjawab, "Hampir, James." 

Ibu kanselor melanjutkan, "Ibu akan bertanya lagi, Ada diantara kalian yang pernah melakukan perjalanan jauh? Tempat terjauh mana yang pernah kalian datangi?"

Siswa bergemuruh, ada yang teriak Los Angeles, ada yang bilang East Coast, ada yang bilang Mexico, ada yang bilang Canada, ada dua orang yang tadi mengacungkan tangan bilang Brazil. Macem-macem pokokna jawaban murid-murid teh.

Si ibu melanjutkan "Nah teman baru kita berasal dari tempat yang saaangat jauh, kalian pernah dengar ada satu negara bernama Indonesia?"

Hampir semua siswa geleng-geleng kepala.

Namun ada satu siswa yang duduk paling depan menjawab "Saya tahu, saya tahu. Saya pernah melihatnya di Globe, Indonesia adalah negara kepulauan yang letaknya di other side of the planet."

Si ibu menjawab "Ya, betul Sarah. Teman baru kita berasal dari negara itu. Negara di belahan lain dunia, dia telah menempuh belasan jam perjalanan di pesawat untuk sampai ke sini."

Siswa-siswa lain semakin excited dan bergemuruh. "Wow!" "Awesome!" "Amazing!"  "Unbelievable!"

Sebagian lain bertepuk tangan dan makin memperhatikan anaknya Pak Dadang.

Karena dipuji, anak Pak Dadang makin PD dong. Yang awalnya nunduk, dia mulai mengangkat kepalanya terus melihat murid-murid lain dengan tatapan yang penasaran terhadap dirinya.

Yang awalnya terus ngelihat ke bawah, sekarang berani menatap siswa-siswa lain.

Excited lihat perkenelan murid baru


"Selanjutnya, siapa diantara kalian yang sudah bisa menguasai dua bahasa?" tanya Bu Kanselor meredam gemuruh murid-murid.

Para siswa yang awalnya berisik, kemudian diam, senyap, gak ada suara, gak ada yang menjawab.

"Nah teman baru kita, bisa menggunakan 2 bahasa, bahasa Inggris dan bahasa Indonesia." lanjutnya.

"No. Three. I can speak three languages. English, Indonesian and Sundanese." sanggah anaknya pak Dadang sambil mengacungkan tiga jari untuk isyarat bahwa dia menguasai tiga bahasa.

Siswa-siswa lain bertepuk tangan, tak sabar menunggu kesempatan untuk mengobrol dengan anak Pak Dadang.

Salah satu siswa bertanya "Bisakah dia duduk di dekat bangku saya, Bu?" 

Salah satu siswa lain "Jangan! Dia harus duduk di sebelahku!"

*mahasiswa berbisik-bisik*

Iya betul, bukan anak Pak Dadang yang pengen temenan duluan, tapi anak-anak bule di kelas itu yang kepengen temenan duluan sama anak Pak Dadang.

Anak Pak Dadang senyum semringah karena sekarang merasa jadi golongan cool kids di sekolah itu. Dia tersenyum ke teman-teman barunya kaya Harry Potter pas pertama masuk asrama Gryffindor.

Semringah


*Mahasiswa di kelas merinding, sebagian tepuk tangan*

Beberapa tahun kemudian, geus beres S3, Pak Dadang balik deui ka Indonesia. Budakna geus SMA ayeuna mah, pindah weh ka salah sahiji sakola SMA di Bandung.

Pas akhir Catur Wulan, baheula mah catur wulan lain semester.

*Mahasiswa ngangguk-ngangguk mengiyakan*

Pas akhir catur wulan, si Pak Dadang dipanggil ke sekolah.

Pak Dadang besoknya datang ke sekolah untuk menemui Wali Kelas anaknya. 

Si wali kelas terus ngomong gini,

"Begini pak, jadi anak bapak teh nilai pelajaran PPKN dan Bahasa Indonesia na belum memenuhi standar. Kalau terus seperti ini, ditakutkan pas kelulusan nanti bakal susah untuk masuk Universitas."

Pak dadang meradang.

"Yeuh bu, budak saya teh karek ge balik ti Amerika tahun ayeuna. Maenya ujug-ujug kudu nilai PPKN jeng Bhs Indonesiana alus. Budak saya teu bodo, lamun diadu bahasa inggrisna sareng ibu masih leuwih jago anak sayah, yakin." kata Pak Dadang berdiri dari kursi.

"Eu....... Jadi pak, saya bisa jelasin......." kata wali kelas.

TAMAT

___________________________

KESIMPULAN

Tau dimana perbedaannya sekolah di US sama di RI? Yep, tepat sekali; Apresiasi.

Di Amerika, si anak diajarkan untuk percaya diri dengan mengapresiasi kelebihannya. Di Indonesia, tanpa sengaja si anak menjadi minder karena pendidikan di kita saat itu belum bisa memaklumi kekurangannya. Cerita ini mirip juga sama contoh-contoh Teori Labeling. 

Karena gue males bikin kesimpulan, kesimpulannya googling aja weh yah. Keywords: Labeling Theory.

Thanks for visit. See you next post!











11/18/2017

Teori Evolusi dan Benturannya dengan Agama

Pada hari Jum'at di akhir bulan Oktober 2017 pukul 16.00-18.00, seperti jum'at jum'at sebelumnya semenjak September 2017, saat itu gue mengikuti mata kuliah TEORI SOSIAL. Saat itu sudah memasuki pertemuan ke-6/7. *Gue lupa detailnya pertemuan berapa.

Saat itu materi kita sudah sampai ke materi 'perubahan sosial' yang didalamnya memuat perubahan sosial cepat (revolusi) dan perubahan sosial lambat (evolusi).

Seperti jum'at jum'at sebelumnya juga, perkuliahan diisi dengan ceramah dosen, lalu setelah Pak Dosen puas ngebacot sekian lama, akhirnya dia membuka sesi tanya jawab.

Setelah diberi kesempatan, kemudian ada satu orang mahasiswa yang duduk di sebelah kanan gue, namanya Pak Saep, mengacungkan tangan dan bertanya gini.

"Pak, kan yang saya tau teori evolusi itu dipopulerkan oleh Charles Darwin, makannya di sini juga dinamakan Darwinisme sosial.  Kemudian menurut bapak, apakah teori evolusi yang benar ataukah penciptaan nabi Adam dalam Al-Quran yang benar?"

I know I know. It's out of context, right? Yang satu membahas evolusi sosial, yang satu membahas  evolusi makhluk hidup. Walau ada embel-embel darwin di keduanya, but still, it's different.

Walau demikian, dosen gue saat itu mau menjawab, dan jawaban dosen gue kira-kira seperti ini....
"Charles Darwin itu salah besar pak, masa kita disama-samain sama monyet. Orang-orang Eropa itu aneh, padahal mereka merasa diri mereka ras paling unggul. Mereka memperbudak ras negroid, mereka mengkolonialisasi ras mongoloid, australoid, ras asli amerika dan ras-ras lainnya di dunia. Tapi kok mau-maunya aja disamain sebagai keterunan dari monyet. 
Dalam Al-Quran kan juga sudah disebutkan pak, kalau nabi Adam itu adalah manusia pertama yang turun dari surga setelah tergoda oleh syaitan untuk memakan buah khuldi. Kalaupun manusia purba benar-benar pernah ada di Bumi, saya tidak percaya Nabi Adam adalah keturuan dari mereka. Nabi Adam itu udah pinter pak.
dst dst" 
And I was like "Really? Jawabannya gitu doang pak?" *tentu gue cuma ngomong dalem hati. Gue cupu emang.

___________________________

Kenapa gue bisa gak puas akan jawaban tersebut?

Soalnya gini. Selama 24 tahun gue hidup di dunia, pertanyaan ini (benturan teori evolusi dengan agama), sudah sering banget gue denger.  Entah di sekolah, di kuliah, di tongkrongan, di film, di serial dokumenter. DIMANAPUN.  *Di capslock biar terkesan sebel.

Mungkin dalam hidup kamu juga demikian. Kalau iya, pasti sebel juga kan kaya gue?

Pertanyaan ini sudah sama basinya dengan jawaban-jawaban "tergantung" atau "kembali ke diri masing-masing" pada saat sesi tanya-jawab di presentasi kelompok di kelas. Gak salah sih, tapi ya karena terlalu sering, jadi yaa.... Basi aja.

__________________________

Sebelum lebih jauh, gue ingin menjelaskan dasar teori evolusi dulu berdasarkan buku Biologi KTSP 2006 saat gue SMA dulu (2008-2011).

Materi teori evolusi ini diajarkan pada saat kelas 12, tetapi Bu Lisye (guru biologi kelas 10) pada saat BAB 'Klasifikasi Makhluk Hidup' juga sedikit menyinggung-nyinggung soal evolusi, kemiripan sifat, keadaan geografis dan hal-hal lainnya yang menjadi tumpuan dalam menggolong-golongkan makhluk hidup dalam 7 tingkatan, dari Kingdom sampai Species.

FYI kalau versi sekarang nambah Domain sebelum Kingdom. Jadi 8 Tingkatan.

_________________________

Di buku KTSP kelas 12 pad BAB "EVOLUSI MAKHLUK HIDUP" kurang lebih isinya gini.

Darwin mencatat fauna dan flora di berbagai wilayah di Amerika Selatan. Fauna yang paling membingungkannya ditemukan di Galapagos, kepulauan vulkanik yang berada di ekuator sekitar 900 km ke arah barat dari pesisir Amerika Selatan. Kebanyakan spesies fauna di Galapagos tidak ditemukan hidup di tempat lain, meskipun ada kesamaan dengan spesies hewan di Amerika Selatan.

Diduga sebelumnya kepulauan Galapagos awalnya dihuni oleh fauna dan flora yang juga berasal dari Amerika Selatan, namun kemudian mengalami diversifikasi karena kondisi pulau yang berbeda. Misalnya, iguana laut merupakan spesies yang berkembang di Amerika Selatan yang kemudian berkoloni di kepulauan Galapagos.

Darwin juga mengoleksi 14 jenis burung finch dari Galapagos, meskipun jenis-jenis tersebut agak mirip, namun terlihat sebagai spesies yang berbeda. Beberapa burung tersebut unik untuk satu pulau tertentu, beberapa jenis burung finch yang lain dapat ditemukan pada dua atau lebih pulau yang berdekatan. Kepulauan Galapagos memiliki total 14 spesies burung finch yang bekerabat dekat.

14 species burung finch, evolusi karena perbedaan geografos & makanan

Selain meneliti perbedaan paruh burung berdasarkan makanannya, Darwin juga mengenalkan 'survival of the fittest' untuk melengkapi teori evolusinya. 

Di buku ini, dicontohkan sebagai jerapah dulunya berleher pendek. Kemudian jerapah leher pendek ini punya 2 anak, satu anak lehernya masih pendek mati, satu anak yang lehernya agak panjang survive. Kemudian jerapah yang lehernya agak panjang tersebut dewasa dan melahirkan dua anak jerapah, anak jerapah yang lehernya agak panjang mati, anak jerapah yang lehernya lebih panjang survive, kemudian jerapah yang leher lebih panjang tumbuh dewasa dan melahirkan dua anak jerapah dst. This heppen repeatly.  

Jerapah berevolusi karena 'survival of the fittest'


________________

Kemudian teori evolusi ini semakin lama samakin berkembang seiring dengan perkembangan klasifikasi makhluk hidup. Manusia, juga tak luput dari teori evolusi. Dari sinilah masalah bermula, ada yang mempercayai, ada pula yang menolak keras.

Kalau gue, I believe it and doubt it at the same time. Kebanyakan orang juga kayanya gini.


Manusia berevolusi
Karena perkuliahan di akhir Oktober 2017 tersebut, keresahan pada diri gue soal problema ini mencapai puncaknya, karenanya gue ingin menuliskan hal ini menjadi sebauh artikel. Just in case kalau kedepannya ada perdebatan semacam ini lagi di sekitar gue.

Bila nanti saatnya tlah tiba, gue tinggal jawab "Oh mengenai hal itu, kamu bisa baca blog saya, saya sudah mengupas tuntas perihal tersebut."

Irit energi & irit waktu, kan? Terbaik.

Berikut versi jawaban yang pernah gue denger dan gue inget selama 24 tahun ini hidup di dunia. Check this out!

1. Versi Charles Darwin salah besar

Khusus untuk point satu ini, gue gak akan menjelaskan lagi. Kalian cukup scroll ke atas terus baca lagi paragraf yang sedikit menjorok ke kanan. Udah.

Next ah. Kuy!

2. Versi Teori Konspirasi

Pada saat gue remaja di SMA 11 Garut. Suatu hari sekitar setengah 3 sore yang biasanya jam pulang sekolah, saat itu hujan sederas-derasnya.

Mayoritas siswa dan guru saat itu memilih stay di kelas atau nongki-nongki di koridor sambil menunggu hujan reda. Jam 3, hujan jadi mendingan. Saat gerimis mengundang tersebut, kebanyakan siswa memaksakan diri pulang, sedangkan gue dan para siswa minoritas manja lainnya memilih stay di sekolah nunggu hujan bener-bener berhenti. 

Saat lagi nunggu ujan reda sambil maen game Tower Bloxx di HP Nokia kesayangan, tiba-tiba ada satu orang temen dari kelas sebelah namanya Barep nyamperin dan ngomong gini. "Daripada nungguan hujan di dieu, mending ka ruang Audo-Visual fal! IPMAKA (extrakurikuler remaja mesjid di 11 Garut) ker ngayakeun nonton bareng!"

Gue lirik temen disamping, saling tatap beberapa detik, kemudian merasa ada getaran-getaran berdebar di dada. Apakah ini yang dinamakan.....

YA ENGGAK LAH

Setelah saling lirik, gue ngomong "Hayu ah, toh jigana hujan bakal awet. Kuy cabs ke ruang Audio Visual!"

Temen gue jawab "Yuk!"


E&Q2.

______________

Gue kira yang dinamakan nonton bareng, bakal nonton film-film religi macam 'ayat-ayat cinta' atau 'ketika cinta bertasbih'. Ternyata para remaja mesjid ini malah nonton video di folder berjudul "KEBOHONGAN BESAR TEORI EVOLUSI"

Dalam folder tersebut ada 5-6 video dalam playlist, dan masing-masing video berdurasi sekitar 10-15 menit. Isinya kurang lebih soal pemalsuan fosil manusia purba.


Seperti video di atas, cuma durasinya lebih lama.
_________________


Iya, saat itu kita semacam dicuci otak.

Setelah keluar dari ruang audio-visual, gue merasa.

OH GITU. JADI SELAMA INI KITA TELAH DIBODOHI. INI ULAH YAHUDI. FREEMASON AKAN MEMBUAT NEW WORLD ORDER. KITA HARUS MELAWAN SEBELUM TERLAMBAT.

___________________________

Boong deng. Sebenarnya reaksi gue setelah nonton cuma perasaan b aja. Gue tipikal orang yang gak terlalu suka sama video gituan. I'm not into conspiracy theory.


3. Versi Cosmos: A Spacetime Odessey

Hampir setiap malam minggu di akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015, gue selalu pulang gak pernah lebih dari pukul 24.00. Karena pada saat itu di Bandung sedang diberlakukan jam malam (aktivitas, perkumpulan & keramaian akan dibubarkan paksa bila melebihi jam 12.00 malam). Kebijakan ini sebagai bentuk reaksi terhadap kasus pembacokan di Jalan Layang Pasopati pada dini hari.

Sehabis malem mingguan, gue biasanya  pulang jam 11 atau 12 malem, beli makan nasgor atau pecel atau indomie goreng original+telor+nasi+bon cabe, kemudian tiduran sambil nonton TV nunggu ngantuk. Gue menghabiskan waktu palingan dengan stay tune didepan TV, dan karena hal tersebutlah, gue menemukan program COSMOS: A SPACETIME ODESSEY yang tayang di Kompas TV minggu dini hari, tepatnya pukul 01.00. 

Sampai sekarang, Cosmos adalah serial dokumenter yang paling gue suka. Buat season 2 dong, please!



Di episode 2, Neil deGrasse Tyson mengatakan ini.
"Darwin pertama kali memperkenalkan "evolution by nature salection" pada tahun 1859. Suatu konsep paling revolusioner pada sejarah ilmu pengetahuan. Kehebohan yang disebabkan olehnya tak pernah mereda. Kenapa? 
Kita semua pasti merasakan rasa tidak nyaman pada pemikiran yang mengatakan bahwa kita berbagi nenek moyang yang sama dengan kera (apes). Tak ada yang lebih memalukan selain kerabatmu sendiri. Kerabat terdekat kita, the chimpanzees, mereka seringkali berperilaku tidak pantas di depan umum.  There's an understandable human need to distance ourselves from them.

Dasar pemikiran dari kepercayaan tradisional mengatakan "we separated with another animals." Sangat mudah untuk mengerti mengapa gagasan ini lebih diterima. That's make we feel..... Special. 
Tapi bagaimana dengan kekerabatan kita dengan pohon-pohon? How does that make you feel?"

Ah panjang, selanjutnya tonton aja weh yah serial Cosmos: A Spacetime Odessey. Di episode itu juga menjelaskan beruang kutub berawal dari kesalahan saat pengkopian DNA pada kromosom, dan ratusan spesies anjing yang kita kenal sekarang adalah evolusi dari campur tangan manusia dari puluhan ribu tahun lalu sampai sekarang.

SERIAL COSMOS. BAGUS. BANGET. TONTON DEH!


4. Versi Quraish Shihab

Iya betul, orang yang gue maksud adalah ayahanda dari Najwa Shihab, tuan rumah mata najwa.

Quraish Shihab itu adalah ahli tafsir yang dihormati di era modern. Bukan cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Kalau gak percaya, kamu bisa cek sendiri atau baca bukunya.

Menurutnya, penafsiran terhadap Al-Qur’an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat Al-Qur’an.


Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama Al-Qur’an. 
_____________

Ada sedikit sejarah tentang cindikiawan muslim dalam buku Quraish Shihab. Jauh sebelum Charles Darwin mempopulerkan teori evolusi. Ratusan tahun sebelumnya Ibnu Khaldun, Ibnu Al-Farabi pernah bikin penelitian (paper) yang berisi bahwa 'kemungkinan manusia terjadi melalui proses evolusi'. Cendikiwan muslim zaman dulu sudah progresif.

Tapi karena kurang populer, penelitian tidak dikembangkan lebih jauh.
_____________

Di dalam bukunya, Quraish Shihab ditanya, "Islam itu percaya teori evolusi gak sih?"

Dia bilang "Bisa jadi"

Beliau gak bilang "iya", beliau gak bilang "tidak", tapi beliau mengatakan "bisa jadi". 

Kenapa? Karena di dalam Al-Quran penciptaan manusia disebut 3 kali.
1. Dibuat dari bahan tanah, yang berarti mineral, which is true.
2. Bahannya disempurnakan, yang berarti ada proses, which is true. 
3. Dihembuskan nyawa oleh Allah SWT, which is true.

Yang ngomong Quraish Shihab loh, ahli tafsir terkemuka. Coba deh baca bukunya yang berjudul 'Tafsir Al-Mishbah'. Tapi harga bukunya mahal. Just saying.


3 juta rupiah kurang dikit.

5. Versi Missing-Link

Saat gue masih semester satu di prodi Pendidikan IPS UPI Bumi Siliwangi Bandung. Ada dua mata kuliah bernama 'Perkembangan Masyarakat Indonesia' dan mata kuliah 'Pengantar Ilmu Sosial'. Kedua mata kuliah tersebut diajar oleh asisten dosen yang sama, beliau bernama Pak Wildan. Entah di mata kuliah yang mana, yang pasti di mata kuliah yang diajar oleh Pak Wildan, ada seorang teman seangkatan bertanya soal keterkaitan teori evolusi dengan agama. Kemudian Pak Wildan menjawab gini.

"Ilmu pengetahuan itu sampai sekarang belum sempurna. Ilmu Fisika belum bisa menjelaskan fenomena penampakan makhluk astral, Ilmu Psikologi belum bisa menjelaskan fenomena kesurupan, Ilmu Teknik belum bisa menciptakan alat untuk menguji relativitas Einstein, Ilmu Kimia tiap dekade menemukan hal-hal yang baru dalam sebuah atom dan menemukan senyawa baru. 
Begitupun halnya dengan teori evolusi Darwin, saya percaya akan kebenarannya, tapi saya yakin teori tersebut belum sempurna. Sampai sekarang masih ada missing-link antara teori evolusi dengan agama. Saya yakin di masa depan, missing-link ini akan ditemukan, dan sudah menjadi tugas kita sebagai seorang akademisi untuk menemukan berbagai missing-link dalam ilmu pengetahuan.
Semoga kita diberi umur yang panjang, dan semoga missing-link ini ditemukan pada saat generasi kita masih hidup di dunia. Kalau belum, mungkin anak cucu kita nanti, atau generasi-generasi setelahnya yang akan menemukan missing-link tersebut."
Missing link?

Saat itu gue 18 tahun dan terkagum-kagum oleh penjelasan Pak Wildan. Jujur, jawaban ini adalah jawaban yang paling gue suka. Kenapa? Karena jawaban ini menandakan bahwa kita cukup mature dan rendah hati sebagai seorang akademisi, namun disaat bersamaan memberi kesan bahwa kita juga beriman untuk seorang umat beragama.

____________________

Kesimpulan

Satu hal yang pasti, tidak ada jawaban yang mutlak benar dari lima macam versi jawaban di atas.  Jawaban yang paling benar ya tergantung, kembali lagi ke diri kita masing-masing. *BASI ANJAY! WOY!

Ok maap!

Paragraf setelah kalimat ini adalah kesimpulan versi serius. Meh, "tergantung." Kesimpulan macam apaan.*Cih

Ilmu pengetahuan itu debat-able. Kalau mau, apapun bisa diperdebatkan. Ilmu pengetahuan itu seringkali sifatnya temporary. Apa yang menjadi kebenaran di masa lalu belum tentu akan menjadi kebenaran di hari ini, dan apa yang menjadi kebenaran hari ini belum tentu menjadi kebenaran di masa depan. Sebagai contoh:
1. Teori gravitasi Newton vs teori relativitas khusus Einstein
2. Teori atom chocochips Thompson vs teori atom orbit Rutherford
3. Teori Tidal Jeans Joffrey vs teori Big-bang dari Lamatitre yang selanjutnya diperkuat Hawking.
4. Geosentris klasik vs Heliosentris Copernicus.
dan masih banyak lagi.
_________

Semoga kedepannya ilmu pengetahuan terus berkembang, semoga kita diberi cukup umur untuk dapat menemukan kebenaran di balik teori evolusi dan keterhubungannya dengan agama.

Damn, now I sounds like Pak Wildan.

Tauk ah.

Gue akhiri artikel ini dengan meme 69.

Hanya karena kamu benar, bukan berarti aing salah, njing!
Thanks for visit.
See you next post.


____________
____________
____________
____________

Untuk cerita personal lainnya, kamu bisa klik label PERSONAL LIFE di menu bar sebelah atas jika menggunakan desktop, atau widget labels di sebelah bawah artikel bila menggunakan mobile device.




10/10/2017

Review Podcast Awal Minggu (PAM) dan LO PIKIR, LO KEREN (LPLK) Bandung

Nostalgia ke satu setengah tahun yang lalu, pada awal tahun 2016 sekitar bulan January or February I think. Saat itu gue lagi bimbang, apakah harus  memutuskan untuk stay atau  pindah. 

Setelah menimbang-nimbang mana yang akan jadi pilihan terbaik, pada bulan Maret 2016 gue akhirnya cukup matang untuk memantapkan sebuah keputusan. Gue memutuskan untuk pindah.

BUKAN. 

Bukan pindah ke Meikarta karena sadar bahwa ada cara lain untuk hidup, cara mudah untuk menggapai cita, bukan.

______________

Gue pindah menjadi pengguna iPhone setelah beberapa tahun belakangan menggunakan smartphone android (galaxy fame). Gue beli iPhone tanggal 21 Maret 2016, gue inget karena 2103 sengaja gue jadiin  passcode lock screen dari pertama beli sampai sekarang.


Lock Screen iPhone


You know what? Kaya udah jadi instinct aja, gue kalau punya barang baru, pasti harus dibandingin sama barang lama.

Biar apa? Biar gue nantinya gak menyesali sebuah pilihan yang terlanjur udah gue pilih. Soalnya keputusan pindah ini adalah tipikal pilihan yang membuat gue harus mengikhlaskan yang lama dan merelakannya untuk digantikan dengan yang baru. *Aww-

Tujuannya sederhana, biar gue never regret any decision I ever make

That's why make a comparison was so important.

Makannya saat itu gue langsung melakukan perbandingan yang sebisa mungkin hasilnya harus membuat gue jangan sampe menyesal, karena menghabiskan duit cashback SPP semester 10 cuma buat beli satu gadget doang.

Berikut hasil perbandingan yang concern ke kelebihan iPhone 5 dibanding Samsung Galaxy Fame, menurut gue saat itu (awal 2016):
  1. Layar lebih tajam. Udah gak kerasa lagi ada pixelite & udah 16:9
  2. Interface sederhana. Tanpa ada macam-macam launcher yang aneh-aneh.
  3. Aplikasi di App store lebih terfilter daripada di Play Store
  4. Exclusive apps. Semacam iTunes, iCloud. Apple Mail, iMovie & Podcast
Exclusive apps make me feel like I have an exclusive device. And exclusive device make me feel like I'm an exclusive person.
_______________

Mulailah gue mencoba mengkulik aplikasi-aplikasi exclusive ini yang sebelumnya gak ada di android device gue. 

Gue buka exclusive app -> kulik -> keluar -> repeat

Setelah mencoba beberapa aplikasi, kemudian gue menemukan satu aplikasi bawaan iOS yang membuat gue gak menyesal telah berpindah meninggalkan OS Android. Aplikasi itu  bernama.......................

Jeng.. jeng.. jeng...jeng






PODCAST


Podcast

Buat kalian yang baru denger istilah podcast. Podcast adalah media hiburan baru yang terasa seperti kemunduran teknologi. Di era digital yang content audio-visual begitu mudah kita tonton, malah muncul satu pembaruan yang cuma modal audio doang without visual. Mundur jauh banget kan? *jadi serasa zaman Bung Tomo. 

Karena aplikasi PODCAST inilah gue berfikir bahwa pengembangan teknologi itu gak selamanya harus nambah inovasi sana-sini, nambah fungsi ini-itu, atau nambah fitur ti ditu ti dieu. Menyederhanakan dan merubahnya jadi cupu juga masih bisa disebut pembaruan yang keren kok. Persis seperti apa yang dilakukan para pendiri Twitter, Instagram & WhatsApp tentunya. Dalam lubuk hati, kita itu pengen dibatas-batasi. *Aww-

Mulailah gue mencoba mengexplore aplikasi podcast, kemudian gue nemu satu channel podcast berbahasa Indonesia bergenre comedy. Setelah gue dengerin satu episode, gue mulai ngerasa lumayan suka dengan jenis hiburan satu ini. Saat itu pula, gue berniat menjadi pendengar channel podcast itu secara rutin. 

Channel podcast yang gue maksud adalah PODCAST AWAL MINGGU (PAM) by Adriano Qalbi. 

Sebagai catatan, sampai sekarang PAM adalah yang pertama dan satu-satunya podcast yang pernah gue dengerin. 



Cuma dengerin orang ngebacot doang gitu? Terus apa serunya?


Gini yah, folks

Hal yang membuat gue jatuh cinta sama PAM dan pengen masuk menjadi kolam tai (sebutan pendengar PAM) adalah karena Adri begitu jujur dan secara eksplisit dalam ngetai-taiin dunia di sekitar dia. 

Selain itu, setiap episode PAM berdurasi satu jam, setengah jam pertama diisi pembahasan tema, setengah jam kedua diisi dengan menjawab pertanyaan. Menurut gue, durasi ini pas karena gak terlalu pendek & gak terlalu lama. Pas banget, buat jadi ayun-ayun ambing sebelum bobok.

PAM juga punya tema-tema yang menarik setiap minggunya. Tema-tema yang membuat gue jadi suka dengerin PAM saat itu diantaranya:
  1. Netizen itu mayoritas kosong tapi sotoy.
  2. Future isn't so bright.
  3. Cewek neneng & cowok mas-mas.
  4. Cewek cantik, tinggi & singset is equivalent with cowok tajir.
  5. Kacang lupa kulitnya adalah kacang yang pengen maju.
  6. Jangan jadi orang aneh & kalau bisa, jangan sampe temenan sama orang aneh!
  7. Gak semua temen harus lo keep & gak semua relationship  harus lo pertahanin.
  8. Dan banyak tema-tema lainnya yang gue gak inget karena kurang berkesan dan cuma numpang lewat doang di kepala. hehe
Tema-tema dan pembahasan di PAM saat itu membuat gue mulai realize dan ngerasa "Anjir, ternyata disekitar aing banyak juga orang aneh & orang nyebelin yang Adri bahas di Podcast. Baru sadar kalau si A ternyata neneng dan si B ternyata............."

Lebih dari itu, bahkan salah satu bit di PAM masih terus nempel di kepala gue dan sampai sekarang malah berfungsi sebagai self reminder agar gue gak jadi tipikal orang nyebelin yang Adri omongin. Berikut bunyi bit PAM yang jadi self reminder buat gue:

Gue paling benci sama orang yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain, dalam hal apapun. APAPUN. Mau orang religius yang ngerasa lebih baik dari orang gak religius, orang atheis yang ngerasa lebih baik dari orang beragama, orang desa yang ngerasa lebih baik dari orang kota, orang kota yang ngerasa lebih baik dari orang kampung, orang kaya yang ngerasa lebih baik dari orang miskin, atau orang miskin yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang kaya.
Ada loh orang miskin yang gitu, beneran. Udah tau miskin tapi bisa-bisanya jadi belagu. Anjing emang. 
Biasanya kalau di tongkrongan, mereka suka ngomong gini "Dia punya mobil bagus palingan dibeliin sama bokapnya. Mendingan gue kemana-mana, walau cuma pake motor kredit, tapi dari hasil keringet gue sendiri."
Cih, najis.
Yaelah kalau lo tau lo miskin, lo mending main bareng sama yang lebih kaya dari lo lah bego! Bukannya mereka malah lo tai-taiin. 
Sekali lagi gue tegaskan, gue paling benci sama orang yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain. - (Salah satu episode PAM, 2016) 

Kasar banget kan? Cara Adri merangkai kalimat pada saat ngebacot di podcastnya? Ditambah Adri juga sering menggunakan 13 kata terlarang menurut tuan Krab di episode Sailor Mouth (bukan suara lumba-lumba, terompet kapal atau gonggongan anjing laut). You know, maksudnya f-word dan temen-temennya.




Walau kasar, satir & sarkastik, setiap episode PAM didengarkan oleh 4000an orang setiap minggunya. Jadi, selain gue, ada 3999 orang lainnya di planet ini yang merasa kalau mendengarkan Podcast Awal Minggu adalah salah-satu hal berfaedah yang bisa dilakukan dengan smartphone.

Good job, Dri!

______________________

Tapi sudah hukum alamnya, kalau apapun yang dilakukan berulang-ulang pasti bakal ada efek jenuh/bosan. Apapun. Mau sekolah, kuliah, ngantor, baca buku, nonton serial TV, main terus di circle yang itu-itu aja, ataupun pacaran dalam waktu yang lama. 

Begitupun halnya dengan dengerin Podcast Awal Minggu. The more I listen, the more I want to stop listen. Kontradiktif abis.

Karenanya mulai awal tahun 2017, gue udah gak pernah dengerin PAM lagi. 

Jadi, kalau diantara kalian sekarang ada yang masih menjadi pendengar PAM (kolam tai). Gue udah melewati masa-masa itu, gue udah masuk kolam tai sebelum lo.

I've listen PAM before it was cool.

Damn!




_____________________


Ih nyebelin banget sih aing. I don't wanna be that guy, sumpah! Tipikal orang-orang nyebelin yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain cuma karena modal lebih tau duluan, terus nanti berhenti pas mulai rame.

Cih, najis. 

Amit-amit jadi orang kaya gitu ya Allah!

Mohon maafkan aku yah! Karena barusan udah jadi orang nyebelin.




______________________

Maju ke masa kini, di suatu malam pada bulan September 2017 saat ngulet-ngulet manja sebelum bobok sambil ngescroll Twitter (iya, gue masih suka ngescroll twitter, walau kebanyakan orang udah pada uninstall), gue melihat iklan acara  ini.


Lo Pikir, Lo Keren

"Anjir, orang ini masih idup? Udah lama nih gak denger bacotan dia di podcastnya. Aing harus banget nih nonton stand up special orang ini." Begitulah pikir gue malem itu. 

Besoknya gue beli tiketnya di shout.id and I can't wait to see his performance.

Btw gara-gara iklan itu, gue jadi kembali ke khittah dan dengerin lagi PAM episode 2 Oktober 2017. *Cih, labil.


Podcast awal minggu

________________________________________

Sebelum Bandung, tour LO PIKIR, LO KEREN (#LPLK) terlebih dahulu telah menyambangi Jakarta. Kalau lihat dari komentar-komentar & testimoni orang yang udah nonton di Jakarta sih, katanya #LPLK bagus banget dan bakalan sayang banget kalau sampei kelewat.
.
Jadi karena saking penasarannya, gue harus bela-belain ke Bandung buat nonton #LPLK walau sekarang lagi usum hujan. Lalu hari sabtu  kemarin, walau gue ada jadwal kuliah sampe jam 1 siang di kota berbeda, gue memilih melewatkan Synchronize Fest buat nonton #LPLK. Kenapa? Karena sayang aja soalnya udah beli tiket LPLK pas pre-sale, mana gak laku lagi pas mau dijual lagi. *Nyet

___________________

Hari ini, 10 Oktober 2017. Here I am,  duduk depan laptop sambil mikirin kembali ke apa yang gue lakukan hari sabtu kemarin. And I was like "Really? Why I do...? Bisa-bisanya gue sampe bela-bel.... Argh, Never mind!"

Setelah pengorbanan itu, is it worth to watch? 

Berikut gue bikin review Stand up special LO PIKIR, LO KEREN (#LPLK) Bandung.


Let’s Start!



_______________________________

Kamalocon, membuka acara LPLK dengan baik dan dengan penuh sumpah serapah khas Sunda. "Anjing, goblog, tai atau podol" menjadi kata yang melengkapi bit-bit yang Kamal keluarkan. Ditutup dengan bit "pergeseran makna kata anjing" yang lucu abis. Walau pas zaman kuliah (2011-2016) gue udah pernah dengerin bit ini sebelumnya di acara RUANG TAMU tour dan Stand up 100 hari kepemimpinan Jokowi di Saung Angklung Udjo. Bit "pergeseran makna kata anjing" masih punya daya bunuh yang cukup besar untuk diketawain.

Patra Gumala, seorang announcer di salah satu radio di Jakarta. Patra sebagai pembuka kedua #LPLK melakukan stand up dengan baik, gue merasa ada peningkatan LPM di opener kedua ini, bit demi bit dihajar dengan sangat baik. Bit "ketemu Afgan" adalah penutup yang berkesan untuk penampilannya.

Guzman_sige, tampil sebagai opener terakhir yang sayangnya, menjadi opener terlemah menurut gue. Guzman tampil dengan bit-bit berpremis pendek, sehingga jarak dari satu punchline ke punchline lain menjadi dekat. Walau demikian, entah kenapa setiap bit yang dikeluarkan Guzman tidak mencapai daya bunuh maksimal seperti opener sebelumnya. 


____________

Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu, orang yang punya hajat, founder & creator Podcast Awal Minggu. The one and only Adriano Qalby.

"Jadi segini doang nih? Tepuk tangan buat orang yang gak terkenal emang kayak gini yah? Gue sebenernya pengen......." 

Kalimat pembuka tersebut sukses membuat para penonton yang mayoritas kolam tai, ketawa lepas bahkan sebagian ada yang tepuk tangan sambil berdiri.

Kemudain Adri membawakan macam-macam materi, bit demi bit dia keluarkan.

Materi LPLK memiliki scope & sequence yang begitu luas & dalam. 

Mulai dari materi remeh macam WhatsApp group keluarga, mobil murah, sticker Happy Family, tangan tukang parkir dll

Lalu materi berat macam pilkada DKI, penistaan agama, Setia Novanto, Dimas Kanjeng, cloud memory, masa depan, vlogger masuk politik dll. 

Penampilannya kemudian ditutup dengan topik yang menjadi favorit banyak orang. Yap, relationship. PDKT, pacaran, cowok selalu bohong, nikah, prosedur minta putus dll adalah materi penutup yang memiliki daya bunuh paling besar dibandingkan materi-materi sebelumnya. Kenapa? Karena itu familar, juga relate dengan kita semua. Berasa ngetawain diri sendiri aja, beneran.

Sebuah keputusan yang tepat untuk menempatkan bit-bit relationship sebagai penutup.

Banyak faktor yang membuat kenapa Adri bisa lucu. Cara dia bicara, intonasi, suara, wajahnya yang bisa berubah-ubah ekspresi, gesture yang gila, dan analogi. Menurut gue, analogi adalah senjata utama, sebuah faktor terbesar yang membuat bit demi bit bisa begitu nikmat untuk ditertawakan.

Metode pembelajaran Make a Match dari Lorna Curran. Itulah yang terpikirkan saat melihat penampilan Adri. Menurut gue, mungkin seperti make a match lah cara Adri berfikir. Dia membedah sebuah konsep besar, isu kontemporer, masalah sosial dsb, kemudian mencari konsep sederhana yang paling mirip dengan konsep besar tersebut. Terciptalah sebuah analogi yang begitu pas, gak kepikiran orang lain, cocok, dan begitu nikmat untuk diketawain.

Materi aja = menarik

Materi + analogi = menggelitik

Materi + analogi + punchline = lucu

Materi + analogi + punchline + expresi berubah-ubah = ketawa guling-guling.

Ketawa guling-guling.

Namun bukan tanpa kelemahan, ada satu hal yang membuat gue merasa terganggu. Dalam pergantian dari materi satu ke materi lain, ada jeda yang lumayan lama. Pada saat awal-awal sampai pertengahan penampilan, jeda tersebut bisa ditutupi dengan cara Adri ngeles. Untungnya, cara Adri ngeles, lucu parah. Jadi, setiap jeda pada penampilan awal sampai pertengahan, masih enak buat diketawain dan mempertahankan pace.

Namun saat memasuki akhir, dalam setiap jeda pergantian antar materi, Adri seperti kehabisan cara untuk beralasan/berkilah. Hal ini mengakibatkan kesunyian super awkward menunggu Adri memulai materi baru.

Walau materi relationship memiliki daya bunuh maksimal, namun jeda-jeda pada pergantian bit mengakibatkan pace tidak mencapai level maksimal. Alangkah baiknya, untuk sebuah penutupan, dilakukan dengan tanpa jeda, sehingga pace menjadi terus naik sampai petcah seperti apa yang dilakukan Kresna Harefa di Ruang Tamu tour.

Dalam kedalaman materi & analogi yang sampai sekarang masih nempel di kepala. Adriano Qalbi menang.

Dalam hal mengakhiri & menutup sebuah penampilan. Sorry to say, Kresna Harefa jauh lebih unggul.


__________

So, is it worth to watch?


Gue percaya kalau sebagai makhluk individu, masing-masing dari kita punya selera yang berbeda-beda. Saat satu rangsangan yang sama diberikan di waktu & tempat yang sama kepada 2 orang berbeda, respon yang diberikan 2 orang responden itu akan berbeda pula. Saat komika tampil diatas panggung, bisa aja salah satu penonton ketawa lepas, sedangkan penonton lainnya masang muka datar sambil ngedumel dalem hati "nyesel gue udah dateng kesini."


"nyesel gue udah dateng kesini"


Bicara masalah selera, gue dan mayoritas manusia lainnya yang tinggal di planet ini, kita masih terjebak in a nutshell. Dengan kata lain, gue cuma akan baca, denger & tonton hal-hal yang gue suka aja, terus akan tutup mata & tutup telinga untuk hal-hal yang gue gak suka. Nutshell.

Summary, you and I have different tastes. And so everyone else.


__________________________

Berikut macam-macam tipikal komika yang gue kotak-kotakan berdasarkan pengetahuan gue yang seadanya:
  1. Komika yang act out, emotional & sering impersonate. Raditya Dika & Ge Pamungkas.
  2. Komika absurd. Indra Frimawan, Arafah Rianti & Kemal Palevi.
  3. Komika bertema berat & serius. Pandji Pragiwaksono & Sammy not a slim boy.
  4. Komika dengan pembawaan lambat. Dodit Mulyanto.
Masing-masing dari kita pasti punya favorit yang beda-beda dari 4 tipikal komika diatas. Kalau gue, gue lebih prefer ke yang no 1 & no 3. Menurut gue, Adriano Qalbi bisa dibilang tengah-tengah dari 2 poin itu, dia bawa tema serius tapi gak seberat Sammy, dia juga emotional tapi gak teriak sekenceng Ge.

So, once again. Is it worth to watch?


For me? Goddamn yes, it's obviously worth it.

For you? Hmm, I'm not sure. Maybe yes, maybe no.




Coba deh kamu renungkan!
LO PIKIR, LO KEREN?
HAH?




-----------------------------------------------------------

Saran gue, coba aja sempetin nonton kalau #LPLK mampir ke kota lo! Katanya setelah Bandung, destinasi selanjutnya Yogyakarta & Surabaya.

Salam Tai, Para Kolam Tai.

________________
________________
________________
________________

________________


Untuk cerita personal lainnya, kamu bisa klik label PERSONAL LIFE di menu bar sebelah atas jika menggunakan desktop, atau widget labels di sebelah bawah artikel bila menggunakan mobile device.

Thank's for visit. See you next post. 
Bye!