11/18/2017

Teori Evolusi dan Benturannya dengan Agama

Pada hari Jum'at di akhir bulan Oktober 2017 pukul 16.00-18.00, seperti jum'at jum'at sebelumnya semenjak September 2017, gue mengikuti mata kuliah TEORI SOSIAL. Saat itu sudah memasuki pertemuan ke-6/7. *Gue lupa detailnya pertemuan berapa.

Saat itu materi kita sudah sampai ke materi 'perubahan sosial' yang didalamnya memuat perubahan sosial cepat (revolusi) dan perubahan sosial lambat (evolusi).

Seperti jum'at jum'at sebelumnya juga, perkuliahan diisi dengan ceramah dosen, lalu setelah Pak Dosen puas ngebacot sekian lama, akhirnya dia membuka sesi tanya jawab.

Setelah diberi kesempatan, kemudian ada satu orang mahasiswa yang duduk di sebelah kanan gue, namanya Pak Saep bertanya gini.

"Pak, kan yang saya tau teori evolusi itu dipopulerkan oleh Charles Darwin, makannya di sini juga dinamakan Darwinisme sosial.  Kemudian menurut bapak, apakah teori evolusi yang benar ataukah penciptaan nabi Adam dalam Al-Quran yang benar?"

I know I know. It's out of context, right? Yang satu membahas evolusi sosial, yang satu membahas  evolusi makhluk hidup. Walau ada embel-embel darwin di keduanya, but still, it's different.

Walau demikian, dosen gue saat itu mau menjawab, dan jawaban dosen gue kira-kira seperti ini....
"Charles Darwin itu salah besar pak, masa kita disama-samain sama monyet. Orang-orang Eropa itu aneh, padahal mereka merasa diri mereka ras paling unggul. Mereka memperbudak ras negroid, mereka mengkolonialisasi ras mongoloid, australoid, ras asli amerika dan ras-ras lainnya di dunia. Tapi kok mau-maunya aja disamain sebagai keterunan dari monyet. 
Dalam Al-Quran kan juga sudah disebutkan pak, kalau nabi Adam itu adalah manusia pertama yang turun dari surga setelah tergoda oleh syaitan untuk memakan buah khuldi. Kalaupun manusia purba benar-benar pernah ada di Bumi, saya tidak percaya Nabi Adam adalah keturuan dari mereka. Nabi Adam itu udah pinter pak.
dst dst" 
And I was like "Really? Jawabannya gitu doang pak?" *tentu gue cuma ngomong dalem hati. Gue cupu emang.

___________________________

Kenapa gue bisa gak puas akan jawaban tersebut?

Soalnya gini. Selama 24 tahun gue hidup di dunia, pertanyaan ini (benturan teori evolusi dengan agama), sudah sering kali gue denger.  Entah di sekolah, di kuliah, di tongkrongan, di film, di serial dokumenter. DIMANAPUN.  *Di capslock biar terkesan sebel.

Mungkin dalam hidup kamu juga demikian. Kalau iya, pasti sebel juga kan kaya gue?

Pertanyaan ini sudah sama basinya dengan jawaban-jawaban "tergantung" atau "kembali ke diri masing-masing" pada saat sesi tanya-jawab di presentasi kelompok di kelas. Gak salah sih, tapi ya karena terlalu sering, jadi yaa.... Basi aja.

__________________________

Sebelum lebih jauh, gue ingin menjelaskan dasar teori evolusi dulu berdasarkan buku Biologi KTSP 2006 saat gue SMA dulu (2008-2011).

Materi teori evolusi ini diajarkan pada saat kelas 12, tetapi Bu Lisye (guru biologi kelas 10) pada saat BAB 'Klasifikasi Makhluk Hidup' juga sedikit menyinggung-nyinggung soal evolusi, kemiripan sifat, keadaan geografis dan hal-hal lainnya yang menjadi tumpuan dalam menggolong-golongkan makhluk hidup dalam 7 tingkatan, dari Kingdom sampai Species.

FYI kalau versi sekarang nambah Domain sebelum Kingdom. Jadi 8 Tingkatan.

Di buku KTSP kelas 12 kurang lebih isinya gini.

Darwin mencatat fauna dan flora di berbagai wilayah di Amerika Selatan. Fauna yang paling membingungkannya ditemukan di Galapagos, kepulauan vulkanik yang berada di ekuator sekitar 900 km ke arah barat dari pesisir Amerika Selatan. Kebanyakan spesies fauna di Galapagos tidak ditemukan hidup di tempat lain, meskipun ada kesamaan dengan spesies hewan di Amerika Selatan.

Diduga sebelumnya kepulauan Galapagos awalnya dihuni oleh fauna dan flora yang juga berasal dari Amerika Selatan, namun kemudian mengalami diversifikasi karena kondisi pulau yang berbeda. Misalnya, iguana laut merupakan spesies yang berkembang di Amerika Selatan yang kemudian berkoloni di kepulauan Galapagos.

Darwin juga mengoleksi 14 jenis burung finch dari Galapagos, meskipun jenis-jenis tersebut agak mirip, namun terlihat sebagai spesies yang berbeda. Beberapa burung tersebut unik untuk satu pulau tertentu, beberapa jenis burung finch yang lain dapat ditemukan pada dua atau lebih pulau yang berdekatan. Kepulauan Galapagos memiliki total 14 spesies burung finch yang bekerabat dekat.

14 species burung finch

Selain, meneliti perbedaan paruh burung berdasarkan makanannya, Darwin juga mengenalkan 'survival of the fittest' untuk melengkapi teori evolusinya. 

Di buku ini, dicontohkan sebagai jerapah dulunya berleher pendek. Kemudian jerapah leher pendek ini punya 2 anak, satu anak lehernya masih pendek mati, satu anak yang lehernya agak panjang survive. Kemudian jerapah yang lehernya agak panjang tersebut dewasa dan melahirkan dua anak jerapah, anak jerapah yang lehernya agak panjang mati, anak jerapah yang lehernya agak-agak panjang survive, kemudian jerapah yang agak-agak panjang tumbuh dewasa dan melahirkan dua anak jerapah dst. This heppen repeatly.  

Jerapah berevolusi


________________

Kemudian teori evolusi ini semakin lama samakin berkembang seiring dengan perkembangan klasifikasi makhluk hidup. Manusia, tak luput dari teori evolusi. Dari sinilah masalah bermula, ada yang mempercayai, ada pula yang menolak keras.

Kalau gue, I believe it and doubt it at the same time. Kebanyakan orang juga kayanya gini.


Manusia berevolusi
Karena perkuliahan di akhir Oktober 2017 tersebut, keresahan pada diri gue soal problema ini mencapai puncaknya, karenanya gue ingin menuliskan hal ini menjadi sebauh artikel. Just in case kalau kedepannya ada perdebatan semacam ini lagi di sekitar gue.

Bila nanti saatnya tlah tiba, gue tinggal jawab "Oh mengenai hal itu, kamu bisa baca blog saya, saya sudah mengupas tuntas perihal tersebut."

Irit energi & irit waktu, kan? Terbaik.

Berikut versi jawaban yang pernah gue denger dan gue inget selama 24 tahun ini hidup di dunia. Check this out!

1. Versi Charles Darwin salah besar

Khusus untuk point satu ini, gue gak akan menjelaskan lagi. Kalian cukup scroll ke atas terus baca lagi paragraf yang sedikit menjorok ke kanan. Udah.

Next ah. Kuy!

2. Versi Teori Konspirasi

Pada saat gue remaja di SMA 11 Garut. Suatu hari sekitar setengah 3 sore yang biasanya jam pulang sekolah, saat itu hujan sederas-derasnya.

Mayoritas siswa dan guru saat itu memilih stay di kelas atau nongki-nongki di koridor sambil menunggu hujan reda. Jam 3, hujan jadi mendingan. Saat gerimis mengundang tersebut, kebanyakan siswa memaksakan diri pulang, sedangkan gue dan para siswa minoritas manja lainnya memilih stay di sekolah nunggu hujan bener-bener berhenti. 

Saat lagi nunggu ujan sambil maen game Tower Bloxx di HP Nokia kesayangan, tiba-tiba ada satu orang temen dari kelas sebelah namanya Barep nyamperin dan ngomong gini. "Daripada nungguan hujan di dieu, mending ka ruang Audo-Visual fal! IPMAKA (extrakurikuler remaja mesjid di 11 Garut) ker ngayakeun nonton bareng!"

Gue lirik temen disamping, saling tatap beberapa detik, kemudian merasa ada getaran-getaran berdebar di dada. Apakah ini yang dinamakan.....

YA ENGGAK LAH

Setelah saling lirik, gue ngomong "Hayu ah, toh jigana hujan bakal awet. Kuy cabs ke ruang Audio Visual!"

Temen gue jawab "Yuk!"


E&Q2.

______________

Gue kira yang dinamakan nonton bareng, bakal nonton film-film religi macam 'ayat-ayat cinta' atau 'ketika cinta bertasbih'. Ternyata para remaja mesjid ini malah nonton video di folder berjudul "KEBOHONGAN BESAR TEORI EVOLUSI"

Dalam folder tersebut ada 5-6 video dalam playlist, dan masing-masing video berdurasi sekitar 10-15 menit. Isinya kurang lebih soal pemalsuan fosil manusia purba.


Seperti video di atas, cuma durasinya lebih lama.
_________________


Iya, saat itu kita semacam dicuci otak.

Setelah keluar dari ruang audio-visual, gue merasa.

OH GITU. JADI SELAMA INI KITA TELAH DIBODOHI. INI ULAH YAHUDI. FREEMASON AKAN MEMBUAT NEW WORLD ORDER. KITA HARUS MELAWAN SEBELUM TERLAMBAT.

___________________________

Boong deng. Sebenarnya reaksi gue setelah nonton cuma perasaan b aja. Gue tipikal orang yang gak terlalu suka sama video gituan. I'm not into conspiracy theory.


3. Versi Cosmos: A Spacetime Odessey

Hampir setiap malam minggu di akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015, gue selalu pulang gak pernah lebih dari pukul 24.00. Karena pada saat itu di Bandung sedang diberlakukan jam malam (aktivitas, perkumpulan & keramaian akan dibubarkan paksa bila melebihi jam 12.00 malam). Kebijakan ini sebagai bentuk reaksi terhadap kasus pembacokan di Jalan Layang Pasopati pada dini hari.

Sehabis malem mingguan, gue biasanya  pulang jam 11 atau 12 malem, beli makan nasgor atau pecel atau indomie goreng original+telor+nasi+bon cabe, kemudian tiduran sambil nonton TV nunggu ngantuk. Gue menghabiskan waktu palingan dengan stay tune didepan TV, dan karena hal tersebutlah, gue menemukan program COSMOS: A SPACETIME ODESSEY yang tayang di Kompas TV minggu dini hari, tepatnya pukul 01.00. 

Sampai sekarang, Cosmos adalah serial dokumenter yang paling gue suka. Buat season 2 dong, please!



Di episode 2, Neil deGrasse Tyson mengatakan ini.
"Darwin pertama kali memperkenalkan "evolution by nature salection" pada tahun 1859. Suatu konsep paling revolusioner pada sejarah ilmu pengetahuan. Kehebohan yang disebabkan olehnya tak pernah mereda. Kenapa? 
Kita semua pasti merasakan rasa tidak nyaman pada pemikiran yang mengatakan bahwa kita berbagi nenek moyang yang sama dengan kera (apes). Tak ada yang lebih memalukan selain kerabatmu sendiri. Kerabat terdekat kita, the chimpanzees, mereka seringkali berperilaku tidak pantas di depan umum.  There's an understandable human need to distance ourselves from them.

Dasar pemikiran dari kepercayaan tradisional mengatakan "we separated with another animals." Sangat mudah untuk mengerti mengapa gagasan ini lebih diterima. That.s make we feel..... Special. 
Tapi bagaimana dengan kekerabatan kita dengan pohon-pohon? How does that make you feel?"

Ah panjang, selanjutnya tonton aja weh yah serial Cosmos: A Spacetime Odessey. Di episode itu juga menjelaskan beruang kutub berawal dari kesalahan saat pengkopian DNA pada kromosom, dan ratusan spesies anjing yang kita kenal sekarang adalah evolusi dari campur tangan manusia dari puluhan ribu tahun lalu sampai sekarang.

SERIAL COSMOS. BAGUS. BANGET. TONTON DEH!


4. Versi Quraish Shihab

Iya betul, orang yang gue maksud adalah ayahanda dari Najwa Shihab, tuan rumah mata najwa.

Quraish Shihab itu adsalah ahli tafsir yang dihormati di era modern. Bukan cuma di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Kalau gak percaya, kamu bisa cek sendiri atau baca bukunya.


Menurutnya, penafsiran terhadap Al-Qur’an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur’an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat Al-Qur’an.


Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama Al-Qur’an. 

Ada sedikit sejarah tentang cindikiawan muslim dalam buku Quraish Shihab. Jauh sebelum Charles Darwin mempopulerkan teori evolusi. Ratusan tahun sebelumnya Ibnu Khaldun, Ibnu Al-Farabi pernah bikin penelitian (paper) yang berisi bahwa 'kemungkinan manusia terjadi melalui proses evolusi'. Cendikiwan muslim zaman dulu sudah progresif.

Tapi karena kurang populer, penelitian tidak dikembangkan lebih jauh.
_____________

Di dalam bukunya,  Quraish Shihab ditanya, "Islam itu percaya teori evolusi gak sih?"

Dia bilang "Bisa jadi" 

Beliau gak bilang "iya", beliau gak bilang "tidak", tapi beliau mengatakan "bisa jadi". 

Kenapa? Karena di dalam Al-Quran penciptaan manusia disebut 3 kali.
1. Dibuat dari bahan tanah, yang berarti mineral, which is true.
2. Bahannya disempurnakan, yang berarti ada proses, which is true. 
3. Dihembuskan nyawa oleh Allah SWT, which is true.

Yang ngomong Quraish Shihab loh, ahli tafsir terkemuka. Coba deh baca bukunya yang berjudul 'Tafsir Al-Mishbah'. Tapi harga bukunya mahal. Just saying.


3 juta rupiah kurang dikit.

5. Versi Missing-Link

Saat gue masih semester satu di prodi Pendidikan IPS UPI Bumi Siliwangi Bandung. Ada dua mata kuliah bernama 'Perkembangan Masyarakat Indonesia' dan mata kuliah 'Pengantar Ilmu Sosial'. Kedua mata kuliah tersebut diajar oleh asisten dosen yang sama, beliau bernama Pak Wildan. Entah di mata kuliah yang mana, yang pasti di mata kuliah yang diajar oleh Pak Wildan, ada seorang teman seangkatan bertanya soal keterkaitan teori evolusi dengan agama. Kemudian Pak Wildan menjawab gini.

"Ilmu pengetahuan itu sampai sekarang belum sempurna. Ilmu Fisika belum bisa menjelaskan fenomena penampakan makhluk astral, Ilmu Psikologi belum bisa menjelaskan fenomena kesurupan, Ilmu Teknik belum bisa menciptakan alat untuk menguji relativitas Einstein, Ilmu Kimia tiap dekade menemukan hal-hal yang baru dalam sebuah atom dan menemukan senyawa baru. 
Begitupun halnya dengan teori evolusi Darwin, saya percaya akan kebenarannya, tapi saya yakin teori tersebut belum sempurna. Sampai sekarang masih ada missing-link antara teori evolusi dengan agama. Saya yakin di masa depan, missing-link ini akan ditemukan, dan sudah menjadi tugas kita sebagai seorang akademisi untuk menemukan berbagai missing-link dalam ilmu pengetahuan.
Semoga kita diberi umur yang panjang, dan semoga missing-link ini ditemukan pada saat generasi kita masih hidup di dunia. Kalau belum, mungkin anak cucu kita nanti, atau generasi-generasi setelahnya yang akan menemukan missing-link tersebut."
Missing link?

Saat itu gue 18 tahun dan terkagum-kagum oleh penjelasan Pak Wildan. Jujur, jawaban ini adalah jawaban yang paling gue suka. Kenapa? Karena jawaban ini menandakan bahwa kita cukup mature dan rendah hati sebagai seorang akademisi, namun disaat bersamaan memberi kesan bahwa kita juga beriman untuk seorang umat beragama.

____________________

Kesimpulan

Satu hal yang pasti, tidak ada jawaban yang mutlak benar dari lima macam versi jawaban di atas.  Jawaban yang paling benar ya tergantung, kembali lagi ke diri kita masing-masing. *BASI ANJAY. WOY.

Ok maap!

Paragraf setelah kalimat ini adalah kesimpulan versi serius. Meh, "tergantung." Kesimpulan macam apaan.*Cih

Ilmu pengetahuan itu debat-able. Kalau mau, apapun bisa diperdebatkan. Ilmu pengetahuan itu seringkali sifatnya temporary. Apa yang menjadi kebenaran di masa lalu belum tentu akan menjadi kebenaran di hari ini, dan apa yang menjadi kebenaran hari ini belum tentu menjadi kebenaran di masa depan. Sebagai contoh:
1. Teori gravitasi Newton vs teori relativitas khusus Einstein
2. Teori atom chocochips Thompson vs teori atom orbit Rutherford
3. Teori Tidal Jeans Joffrey vs teori Big-bang dari Lamatitre yang selanjutnya diperkuat Hawkins.
4. Geosentris klasik vs Heliosentris Copernicus.
dan masih banyak lagi.
_________

Semoga kedepannya ilmu pengetahuan terus berkembang, semoga kita diberi cukup umur untuk dapat menemukan kebenaran di balik teori evolusi dan keterhubungannya dengan agama.

Damn, now I sounds like Pak Wildan.

Tauk ah.

Gue akhiri artikel ini dengan meme 69.

Hanya karena kamu benar, bukan berarti aing salah, njing!
Thanks for visit.
See you next post.


____________
____________
____________
____________

Untuk cerita personal lainnya, kamu bisa klik label PERSONAL LIFE di menu bar sebelah atas jika menggunakan desktop, atau widget labels di sebelah bawah artikel bila menggunakan mobile device.




10/10/2017

Review Podcast Awal Minggu (PAM) dan LO PIKIR, LO KEREN (LPLK) Bandung

Nostalgia ke satu setengah tahun yang lalu, pada awal tahun 2016 sekitar bulan January or February I think. Saat itu gue lagi bimbang, apakah harus  memutuskan untuk stay atau  pindah. 

Setelah menimbang-nimbang mana yang akan jadi pilihan terbaik, pada bulan Maret 2016 gue akhirnya cukup matang untuk memantapkan sebuah keputusan. Gue memutuskan untuk pindah.

BUKAN. 

Bukan pindah ke Meikarta karena sadar bahwa ada cara lain untuk hidup, cara mudah untuk menggapai cita, bukan.

______________

Gue pindah menjadi pengguna iPhone setelah beberapa tahun belakangan menggunakan smartphone android (galaxy fame). Gue beli iPhone tanggal 21 Maret 2016, gue inget karena 2103 sengaja gue jadiin  passcode lock screen dari pertama beli sampai sekarang.


Lock Screen iPhone


You know what? Kaya udah jadi instinct aja, gue kalau punya barang baru, pasti harus dibandingin sama barang lama.

Biar apa? Biar gue nantinya gak menyesali sebuah pilihan yang terlanjur udah gue pilih. Soalnya keputusan pindah ini adalah tipikal pilihan yang membuat gue harus mengikhlaskan yang lama dan merelakannya untuk digantikan dengan yang baru. *Aww-

Tujuannya sederhana, biar gue never regret any decision I ever make

That's why make a comparison was so important.

Makannya saat itu gue langsung melakukan perbandingan yang sebisa mungkin hasilnya harus membuat gue jangan sampe menyesal, karena menghabiskan duit cashback SPP semester 10 cuma buat beli satu gadget doang.

Berikut hasil perbandingan yang concern ke kelebihan iPhone 5 dibanding Samsung Galaxy Fame, menurut gue saat itu (awal 2016):
  1. Layar lebih tajam. Udah gak kerasa lagi ada pixelite & udah 16:9
  2. Interface sederhana. Tanpa ada macam-macam launcher yang aneh-aneh.
  3. Aplikasi di App store lebih terfilter daripada di Play Store
  4. Exclusive apps. Semacam iTunes, iCloud. Apple Mail, iMovie & Podcast
Exclusive apps make me feel like I have an exclusive device. And exclusive device make me feel like I'm an exclusive person.
_______________

Mulailah gue mencoba mengkulik aplikasi-aplikasi exclusive ini yang sebelumnya gak ada di android device gue. 

Gue buka exclusive app -> kulik -> keluar -> repeat

Setelah mencoba beberapa aplikasi, kemudian gue menemukan satu aplikasi bawaan iOS yang membuat gue gak menyesal telah berpindah meninggalkan OS Android. Aplikasi itu  bernama.......................

Jeng.. jeng.. jeng...jeng






PODCAST


Podcast

Buat kalian yang baru denger istilah podcast. Podcast adalah media hiburan baru yang terasa seperti kemunduran teknologi. Di era digital yang content audio-visual begitu mudah kita tonton, malah muncul satu pembaruan yang cuma modal audio doang without visual. Mundur jauh banget kan? *jadi serasa zaman Bung Tomo. 

Karena aplikasi PODCAST inilah gue berfikir bahwa pengembangan teknologi itu gak selamanya harus nambah inovasi sana-sini, nambah fungsi ini-itu, atau nambah fitur ti ditu ti dieu. Menyederhanakan dan merubahnya jadi cupu juga masih bisa disebut pembaruan yang keren kok. Persis seperti apa yang dilakukan para pendiri Twitter, Instagram & WhatsApp tentunya. Dalam lubuk hati, kita itu pengen dibatas-batasi. *Aww-

Mulailah gue mencoba mengexplore aplikasi podcast, kemudian gue nemu satu channel podcast berbahasa Indonesia bergenre comedy. Setelah gue dengerin satu episode, gue mulai ngerasa lumayan suka dengan jenis hiburan satu ini. Saat itu pula, gue berniat menjadi pendengar channel podcast itu secara rutin. 

Channel podcast yang gue maksud adalah PODCAST AWAL MINGGU (PAM) by Adriano Qalbi. 

Sebagai catatan, sampai sekarang PAM adalah yang pertama dan satu-satunya podcast yang pernah gue dengerin. 



Cuma dengerin orang ngebacot doang gitu? Terus apa serunya?


Gini yah, folks

Hal yang membuat gue jatuh cinta sama PAM dan pengen masuk menjadi kolam tai (sebutan pendengar PAM) adalah karena Adri begitu jujur dan secara eksplisit dalam ngetai-taiin dunia di sekitar dia. 

Selain itu, setiap episode PAM berdurasi satu jam, setengah jam pertama diisi pembahasan tema, setengah jam kedua diisi dengan menjawab pertanyaan. Menurut gue, durasi ini pas karena gak terlalu pendek & gak terlalu lama. Pas banget, buat jadi ayun-ayun ambing sebelum bobok.

PAM juga punya tema-tema yang menarik setiap minggunya. Tema-tema yang membuat gue jadi suka dengerin PAM saat itu diantaranya:
  1. Netizen itu mayoritas kosong tapi sotoy.
  2. Future isn't so bright.
  3. Cewek neneng & cowok mas-mas.
  4. Cewek cantik, tinggi & singset is equivalent with cowok tajir.
  5. Kacang lupa kulitnya adalah kacang yang pengen maju.
  6. Jangan jadi orang aneh & kalau bisa, jangan sampe temenan sama orang aneh!
  7. Gak semua temen harus lo keep & gak semua relationship  harus lo pertahanin.
  8. Dan banyak tema-tema lainnya yang gue gak inget karena kurang berkesan dan cuma numpang lewat doang di kepala. hehe
Tema-tema dan pembahasan di PAM saat itu membuat gue mulai realize dan ngerasa "Anjir, ternyata disekitar aing banyak juga orang aneh & orang nyebelin yang Adri bahas di Podcast. Baru sadar kalau si A ternyata neneng dan si B ternyata............."

Lebih dari itu, bahkan salah satu bit di PAM masih terus nempel di kepala gue dan sampai sekarang malah berfungsi sebagai self reminder agar gue gak jadi tipikal orang nyebelin yang Adri omongin. Berikut bunyi bit PAM yang jadi self reminder buat gue:

Gue paling benci sama orang yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain, dalam hal apapun. APAPUN. Mau orang religius yang ngerasa lebih baik dari orang gak religius, orang atheis yang ngerasa lebih baik dari orang beragama, orang desa yang ngerasa lebih baik dari orang kota, orang kota yang ngerasa lebih baik dari orang kampung, orang kaya yang ngerasa lebih baik dari orang miskin, atau orang miskin yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang kaya.
Ada loh orang miskin yang gitu, beneran. Udah tau miskin tapi bisa-bisanya jadi belagu. Anjing emang. 
Biasanya kalau di tongkrongan, mereka suka ngomong gini "Dia punya mobil bagus palingan dibeliin sama bokapnya. Mendingan gue kemana-mana, walau cuma pake motor kredit, tapi dari hasil keringet gue sendiri."
Cih, najis.
Yaelah kalau lo tau lo miskin, lo mending main bareng sama yang lebih kaya dari lo lah bego! Bukannya mereka malah lo tai-taiin. 
Sekali lagi gue tegaskan, gue paling benci sama orang yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain. - (Salah satu episode PAM, 2016) 

Kasar banget kan? Cara Adri merangkai kalimat pada saat ngebacot di podcastnya? Ditambah Adri juga sering menggunakan 13 kata terlarang menurut tuan Krab di episode Sailor Mouth (bukan suara lumba-lumba, terompet kapal atau gonggongan anjing laut). You know, maksudnya f-word dan temen-temennya.




Walau kasar, satir & sarkastik, setiap episode PAM didengarkan oleh 4000an orang setiap minggunya. Jadi, selain gue, ada 3999 orang lainnya di planet ini yang merasa kalau mendengarkan Podcast Awal Minggu adalah salah-satu hal berfaedah yang bisa dilakukan dengan smartphone.

Good job, Dri!

______________________

Tapi sudah hukum alamnya, kalau apapun yang dilakukan berulang-ulang pasti bakal ada efek jenuh/bosan. Apapun. Mau sekolah, kuliah, ngantor, baca buku, nonton serial TV, main terus di circle yang itu-itu aja, ataupun pacaran dalam waktu yang lama. 

Begitupun halnya dengan dengerin Podcast Awal Minggu. The more I listen, the more I want to stop listen. Kontradiktif abis.

Karenanya mulai awal tahun 2017, gue udah gak pernah dengerin PAM lagi. 

Jadi, kalau diantara kalian sekarang ada yang masih menjadi pendengar PAM (kolam tai). Gue udah melewati masa-masa itu, gue udah masuk kolam tai sebelum lo.

I've listen PAM before it was cool.

Damn!




_____________________


Ih nyebelin banget sih aing. I don't wanna be that guy, sumpah! Tipikal orang-orang nyebelin yang ngerasa dirinya lebih baik dari orang lain cuma karena modal lebih tau duluan, terus nanti berhenti pas mulai rame.

Cih, najis. 

Amit-amit jadi orang kaya gitu ya Allah!

Mohon maafkan aku yah! Karena barusan udah jadi orang nyebelin.




______________________

Maju ke masa kini, di suatu malam pada bulan September 2017 saat ngulet-ngulet manja sebelum bobok sambil ngescroll Twitter (iya, gue masih suka ngescroll twitter, walau kebanyakan orang udah pada uninstall), gue melihat iklan acara  ini.


Lo Pikir, Lo Keren

"Anjir, orang ini masih idup? Udah lama nih gak denger bacotan dia di podcastnya. Aing harus banget nih nonton stand up special orang ini." Begitulah pikir gue malem itu. 

Besoknya gue beli tiketnya di shout.id and I can't wait to see his performance.

Btw gara-gara iklan itu, gue jadi kembali ke khittah dan dengerin lagi PAM episode 2 Oktober 2017. *Cih, labil.


Podcast awal minggu

________________________________________

Sebelum Bandung, tour LO PIKIR, LO KEREN (#LPLK) terlebih dahulu telah menyambangi Jakarta. Kalau lihat dari komentar-komentar & testimoni orang yang udah nonton di Jakarta sih, katanya #LPLK bagus banget dan bakalan sayang banget kalau sampei kelewat.
.
Jadi karena saking penasarannya, gue harus bela-belain ke Bandung buat nonton #LPLK walau sekarang lagi usum hujan. Lalu hari sabtu  kemarin, walau gue ada jadwal kuliah sampe jam 1 siang di kota berbeda, gue memilih melewatkan Synchronize Fest buat nonton #LPLK. Kenapa? Karena sayang aja soalnya udah beli tiket LPLK pas pre-sale, mana gak laku lagi pas mau dijual lagi. *Nyet

___________________

Hari ini, 10 Oktober 2017. Here I am,  duduk depan laptop sambil mikirin kembali ke apa yang gue lakukan hari sabtu kemarin. And I was like "Really? Why I do...? Bisa-bisanya gue sampe bela-bel.... Argh, Never mind!"

Setelah pengorbanan itu, is it worth to watch? 

Berikut gue bikin review Stand up special LO PIKIR, LO KEREN (#LPLK) Bandung.


Let’s Start!



_______________________________

Kamalocon, membuka acara LPLK dengan baik dan dengan penuh sumpah serapah khas Sunda. "Anjing, goblog, tai atau podol" menjadi kata yang melengkapi bit-bit yang Kamal keluarkan. Ditutup dengan bit "pergeseran makna kata anjing" yang lucu abis. Walau pas zaman kuliah (2011-2016) gue udah pernah dengerin bit ini sebelumnya di acara RUANG TAMU tour dan Stand up 100 hari kepemimpinan Jokowi di Saung Angklung Udjo. Bit "pergeseran makna kata anjing" masih punya daya bunuh yang cukup besar untuk diketawain.

Patra Gumala, seorang announcer di salah satu radio di Jakarta. Patra sebagai pembuka kedua #LPLK melakukan stand up dengan baik, gue merasa ada peningkatan LPM di opener kedua ini, bit demi bit dihajar dengan sangat baik. Bit "ketemu Afgan" adalah penutup yang berkesan untuk penampilannya.

Guzman_sige, tampil sebagai opener terakhir yang sayangnya, menjadi opener terlemah menurut gue. Guzman tampil dengan bit-bit berpremis pendek, sehingga jarak dari satu punchline ke punchline lain menjadi dekat. Walau demikian, entah kenapa setiap bit yang dikeluarkan Guzman tidak mencapai daya bunuh maksimal seperti opener sebelumnya. 


____________

Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu, orang yang punya hajat, founder & creator Podcast Awal Minggu. The one and only Adriano Qalby.

"Jadi segini doang nih? Tepuk tangan buat orang yang gak terkenal emang kayak gini yah? Gue sebenernya pengen......." 

Kalimat pembuka tersebut sukses membuat para penonton yang mayoritas kolam tai, ketawa lepas bahkan sebagian ada yang tepuk tangan sambil berdiri.

Kemudain Adri membawakan macam-macam materi, bit demi bit dia keluarkan.

Materi LPLK memiliki scope & sequence yang begitu luas & dalam. 

Mulai dari materi remeh macam WhatsApp group keluarga, mobil murah, sticker Happy Family, tangan tukang parkir dll

Lalu materi berat macam pilkada DKI, penistaan agama, Setia Novanto, Dimas Kanjeng, cloud memory, masa depan, vlogger masuk politik dll. 

Penampilannya kemudian ditutup dengan topik yang menjadi favorit banyak orang. Yap, relationship. PDKT, pacaran, cowok selalu bohong, nikah, prosedur minta putus dll adalah materi penutup yang memiliki daya bunuh paling besar dibandingkan materi-materi sebelumnya. Kenapa? Karena itu familar, juga relate dengan kita semua. Berasa ngetawain diri sendiri aja, beneran.

Sebuah keputusan yang tepat untuk menempatkan bit-bit relationship sebagai penutup.

Banyak faktor yang membuat kenapa Adri bisa lucu. Cara dia bicara, intonasi, suara, wajahnya yang bisa berubah-ubah ekspresi, gesture yang gila, dan analogi. Menurut gue, analogi adalah senjata utama, sebuah faktor terbesar yang membuat bit demi bit bisa begitu nikmat untuk ditertawakan.

Metode pembelajaran Make a Match dari Lorna Curran. Itulah yang terpikirkan saat melihat penampilan Adri. Menurut gue, mungkin seperti make a match lah cara Adri berfikir. Dia membedah sebuah konsep besar, isu kontemporer, masalah sosial dsb, kemudian mencari konsep sederhana yang paling mirip dengan konsep besar tersebut. Terciptalah sebuah analogi yang begitu pas, gak kepikiran orang lain, cocok, dan begitu nikmat untuk diketawain.

Materi aja = menarik

Materi + analogi = menggelitik

Materi + analogi + punchline = lucu

Materi + analogi + punchline + expresi berubah-ubah = ketawa guling-guling.

Ketawa guling-guling.

Namun bukan tanpa kelemahan, ada satu hal yang membuat gue merasa terganggu. Dalam pergantian dari materi satu ke materi lain, ada jeda yang lumayan lama. Pada saat awal-awal sampai pertengahan penampilan, jeda tersebut bisa ditutupi dengan cara Adri ngeles. Untungnya, cara Adri ngeles, lucu parah. Jadi, setiap jeda pada penampilan awal sampai pertengahan, masih enak buat diketawain dan mempertahankan pace.

Namun saat memasuki akhir, dalam setiap jeda pergantian antar materi, Adri seperti kehabisan cara untuk beralasan/berkilah. Hal ini mengakibatkan kesunyian super awkward menunggu Adri memulai materi baru.

Walau materi relationship memiliki daya bunuh maksimal, namun jeda-jeda pada pergantian bit mengakibatkan pace tidak mencapai level maksimal. Alangkah baiknya, untuk sebuah penutupan, dilakukan dengan tanpa jeda, sehingga pace menjadi terus naik sampai petcah seperti apa yang dilakukan Kresna Harefa di Ruang Tamu tour.

Dalam kedalaman materi & analogi yang sampai sekarang masih nempel di kepala. Adriano Qalbi menang.

Dalam hal mengakhiri & menutup sebuah penampilan. Sorry to say, Kresna Harefa jauh lebih unggul.


__________

So, is it worth to watch?


Gue percaya kalau sebagai makhluk individu, masing-masing dari kita punya selera yang berbeda-beda. Saat satu rangsangan yang sama diberikan di waktu & tempat yang sama kepada 2 orang berbeda, respon yang diberikan 2 orang responden itu akan berbeda pula. Saat komika tampil diatas panggung, bisa aja salah satu penonton ketawa lepas, sedangkan penonton lainnya masang muka datar sambil ngedumel dalem hati "nyesel gue udah dateng kesini."


"nyesel gue udah dateng kesini"


Bicara masalah selera, gue dan mayoritas manusia lainnya yang tinggal di planet ini, kita masih terjebak in a nutshell. Dengan kata lain, gue cuma akan baca, denger & tonton hal-hal yang gue suka aja, terus akan tutup mata & tutup telinga untuk hal-hal yang gue gak suka. Nutshell.

Summary, you and I have different tastes. And so everyone else.


__________________________

Berikut macam-macam tipikal komika yang gue kotak-kotakan berdasarkan pengetahuan gue yang seadanya:
  1. Komika yang act out, emotional & sering impersonate. Raditya Dika & Ge Pamungkas.
  2. Komika absurd. Indra Frimawan, Arafah Rianti & Kemal Palevi.
  3. Komika bertema berat & serius. Pandji Pragiwaksono & Sammy not a slim boy.
  4. Komika dengan pembawaan lambat. Dodit Mulyanto.
Masing-masing dari kita pasti punya favorit yang beda-beda dari 4 tipikal komika diatas. Kalau gue, gue lebih prefer ke yang no 1 & no 3. Menurut gue, Adriano Qalbi bisa dibilang tengah-tengah dari 2 poin itu, dia bawa tema serius tapi gak seberat Sammy, dia juga emotional tapi gak teriak sekenceng Ge.

So, once again. Is it worth to watch?


For me? Goddamn yes, it's obviously worth it.

For you? Hmm, I'm not sure. Maybe yes, maybe no.




Coba deh kamu renungkan!
LO PIKIR, LO KEREN?
HAH?




-----------------------------------------------------------

Saran gue, coba aja sempetin nonton kalau #LPLK mampir ke kota lo! Katanya setelah Bandung, destinasi selanjutnya Yogyakarta & Surabaya.

Salam Tai, Para Kolam Tai.

________________
________________
________________
________________

________________


Untuk cerita personal lainnya, kamu bisa klik label PERSONAL LIFE di menu bar sebelah atas jika menggunakan desktop, atau widget labels di sebelah bawah artikel bila menggunakan mobile device.

Thank's for visit. See you next post. 
Bye!