7/28/2015

Contoh Laporan Individual PPL / PLP Jurusan Pendidikan IPS

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN INDIVIDUAL PROGRAM PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) DI SMPN 9 BANDUNG

SEMESTER GENAP TAHUN 2014/2015









Menyetujui,

Dosen Pembimbing PPL,






Yeni Kurniawati, M.Pd
NIP. 197706022003122

Guru Pamong PPL,






Oma Rohmawati, S.Pd
NIP. 196406121984112002


KATA PENGANTAR


Alhamdulillah wa Syukurillah segala puji bagi Allah selakyanya kita haturkan, karena atas izin-Nya lah kita masih diberikan nikmat iman dan islam, nikmat sehat lahir dan bathin, setiap detik dan hembusan nafas kita, setiap jejak langkah kaki kita, tidak terlepas dari karunia Allah yang begitu besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad ialah utusan Allah. Shalawat serta salam selalu terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad Saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya, para tabi’in dan tabiut tabi’innya, hingga sampailah kepada kita semua selaku umatnya.
Disusunnya Laporan Individual Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMPN 9 Bandung ini, adalah salahsatu dari sebagian syarat untuk menempuh ujian serta menyelesaikan mata kuliah PPL.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih belum sempurna, baik dalam penyajiaannya, maupun penguraiannya. Karena itu dengan segala kerendarahan hati, kiranya para pembaca untuk tidak segan-segan memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis.
Selama penulisan laporan ini, banyak pihak yang telah membantu penulis, untuk itu selayaknyalah penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1.        Drs. Nana Hanadi M.M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMPN 9 Bandung yang telah memberikan dukungan serta  izin kepada praktikan untuk melaksankan PPL di SMPN 9 Bandung.
2.        Yeni Kurniawati M.Pd. ,selaku Dosen Pembimbing PPL yang telah meluangkan waktu untuk membimbing serta memberi motivasi selama praktikan melaksankan PPL di SMPN 9 Bandung.
3.        Oma Rohmawati, S.Pd., selaku Guru Pamong Sejarah yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi selama praktikan melaksanakan PPL di SMPN 9 Bandung.
4.        Seluruh Ketua Program yang berada di SMPN 9 Bandung yang secara langsung  memberikan bimbingan, ide-ide, saran, nasihat, dan pengalaman serta ilmu yang sangat bermanfaat bagi para praktikan PPL UPI khususnya penulis.
5.        Seluruh Staf Pengajar serta tata usaha yang telah mendukung serta membantu praktikan dalam melaksanakan PPL di SMPN 9 Bandung.
6.        Sahabat- sahabatku semua IPS 2011 rekan seperjuangan PPL pula, yang telah berbagi pengalaman serta saling mendukung dan memberi motivasi selama pelaksanaan PPL UPI 2015.
7.        Siswa-siswi SMPN 9 Bandung yang membuat praktikan seakan menjadi guru sebenarnya, dengan keunikan serta kepolosan tingkah laku nya yang tak pernah berhenti membuat praktikan tersenyum ceria selama melaksankan PPL.
8.        Semua pihak yang telah memberi bantuan dan dorongan selama penyusunanlaporan ini, yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
Besar harapan penulis, semoga pembaca dapat memaklumi kekurangan yang terdapat pada laporan ini, karena penulis masih dalam tahap proses pembelajaran.. Semoga Allah selalu memberkati kita semua.

                                                                
                                                                  Bandung,    Mei 2015
                                                                 Praktikan PPL IPS Kependidikan
                                                             dan Tenaga Kependidikan UPI


                                                                                         Rifal Nurkholiq
                                                                                         NIM. 1103502

 

DAFTAR ISI


DAFTAR ISI …………………………………………………………………………..…iii





Dalam rangka meningkatkan kinerja serta profesionalisme guru, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai salahsatu Perguruan Tinggi pelopor calon-calon tenaga pendidik dan kependidikan yang unggul serta handal, menyelenggarakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswanya pada tingkat akhir. Sebagaimana yang telah diungkapkan diatas, bahwa program ini merupakan mata kuliah profesional tenaga pendidik guru dan merupakan mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa UPI program kependidikan calon guru. Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk mempersiapkan calon-calon guru. Program ini mencakup pembinaan dan pelatihan kemampuan profesional guru dan tugas-tugas kependidikan lainnya serta tugas-tugas di luar kependidikan secara terbimbing dan terpadu guna persyaratan profesi pendidik.
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan belajar mahasiswa yang dilakukan di lapangan untuk mengintegrasikan pengetahuan teoritis yang diperoleh di kampus dengan pengalaman praktik di lapangan sehingga target khusus yang merupakan target kompetensi program studi dapat tercapai. Kegiatan tersebut meliputi pembelajaran dan pengelolaan administrasi di sekolah/madrasah latihan.
Praktik pembelajaran adalah latihan melaksanakan kegiatan pembelajaran oleh mahasiswa di dalam kelas, mulai dari membuat perencanaan pembelajaran (RPP), pelaksanaan dan penilaian. Sedangkan praktik pengelolaan administrasi adalah latihan melaksanakan tugas-tugas administrasi, bimbingan dan lain-lain. Dalam melaksanakan tugas-tugas PPL ini mahasiswa dipandu oleh pihak sekolah/madrasah (kepala sekolah/madrasah, waka kurikulum, kepala TU dan guru pamong), dan dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Program Pengalaman Lapangan (PPL) ini merupakan bagian integral dari proses pendidikan pada jenjang S-1 kependidikan, yang dimaksudkan untuk menyediakan pengalaman belajar kepada mahasiswa dalam situasi nyata di lapangan dalam upaya mencapai kompetensi secara utuh, sebagaimana telah ditetapkan oleh masing-masing program studi di lingkungan UPI.(Direktorat Akademik, 2013, hal. 1)
Selain itu, Zainal Asri (2012:91) mengemukakan bahwa Program Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan muara dan aplikasi dari seluruh materi yang diterima mahasiswa selama mengikuti pembelajaran dibangku kuliah. Ada beberapa istilah yang digunakan dalam mendefinisikan program pengalaman lapangan sama dengan praktik mengajar atau praktik keguruan. Pada hakikatnya PPL adalah melakukan atau memberikan pembelajaran pada seorang atau beberapa orang berupa pengetahuan maupun lainnya. Dalam kata lain, PPL diartikan sebagai kegiatan pelatihan untuk menerapkan berbagai pengetahuan sikap, keterampilan dalam proses pembelajaran secara utuh dan terintegrasi.
Secara umum tujuan program pengalaman lapangan adalah sebagai berikut (Asri, 2012, hal. 94) :
1.        Membimbing para calon guru kearah terbentuknya pribadi yang memiliki nilai, sikap, pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan bagi profesi guru administrator pendidikan serta mampu menangkap makna dari situasi keguruan yang dihadapinya.
2.        Membimbing para calon guru agar kepribadiannya dalam pendidikan atau sebagian guru yang baik dan setia pada profesinya, menguasai dan mampu mengembangkan ilmu-ilmu sesuai dengan bidang pendidikan dan perkembangan zaman serta cakap dalam menyelenggarakan pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah.
3.        Membimbing para calon guru agar menghayati secara apresiatif dan menterampilkan diri dalam semua kegiatan keguruan. Sehingga dengan demikian terbentuknya sikap mental calon sesuai dengan profesi guru agar seorang calon guru memiliki keterampilan dalam meberikan pelajaran kepada siswa.
Dalam konteks pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan, PPL memiliki fungsi dan peranan yang sangat strategis. Kegiatan PPL yang dilakukan mahasiswa pada hakikatnya melakukan aktivitas belajar dengan bekerja pada suatu sekolah/lembaga pendidikan tertentu. Para mahasiswa dalam melaksanakan PPL, tidak hanya dituntut menggunakan pengetahuan dan keterampilan akademik yang telah diperoleh melalui perkuliahan sesuai dengan tuntutan nyata dalam situasi kerja, tetapi para mahasiswa juga dituntut untuk mendapatkan pengalaman mengajar secara profesional serta mengintegrasikan pengalamannya itu ke dalam pola perilaku dirinya sebagai pribadi yang efektif dan produktif. Dengan PPL, para mahasiswa diharapkan dapat mencapai kompetensi yang ditetapkan oleh setiap program studinya masing-masing.(Direktorat Akademik, 2013, hal. 1)
Walaupun PPL sifatnya berupa latihan, hakikatnya adalah mengajar. Sudah tentu antara tujuan mengajar dan tujuan program pengalaman lapangan memiliki persamaan dan perbedaan. Selain itu pula, secara langsung manfaat PPL adalah sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam mengajar, sehingga mereka siap segi fisik maupun mental dalam menghadapi permasalahan yang muncul di lapangan dan melatih pembiasaan calon guru dalam merealisasikan ilmu yang telah diperoleh selama di bangku perkuliahan.(Asri, 2012, hal. 96-97)
Pada Program Latihan Lapangan (PPL) ini penulis mendapatkan tugas sebagai guru praktikan Pendidikan Sejarah di SMPN 9 Bandung yang berada di Jalan Semar no. 5 Kota Bandung. Kegiatan PPL Universitas Pendidikan Indonesia ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2015/2016 yang terhitung mulai dari bulan Januari hingga Mei. Selama melaksanakan PPL, praktikan mendapatkan tugas untuk menyampaikan materi mata pelajaran IPS pada :
1.        Kelas VII 7   = setiap hari senin  jam ke 5 & 6, dan hari rabu jam ke 5&6
2.        Kelas VII 8   = setiap hari selasa jam ke 1 & 2, dan hari jum’at jam ke 5 & 6
Selama praktikan melaksanakan PPL, begitu banyak pengalaman yang didapat. Mulai dari pengembangan kemampuan sebagai calon guru, sekaligus tenaga kependidikan yang profesional. Pada pelaksanaannya, praktikan dihadapkan dengan berbagai permasalahan, baik dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), proses penampilan, bimbingan belajar/ekstrakurikuler, partisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, partisipasi dalam kehidupan sekolah/tempat latihan, dan proses bimbingan dengan guru pamong, serta Dosen Pembimbing PPL.
Namun seiring berjalannya waktu PPL, praktikan pun mulai menyesuaikan diri. Belajar untuk bijak dalam menyikapi berbagai permasalahan yang terjadi, serta berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan penampilan serta kontribusi yang terbaik sebagai calon guru. Adapun permasalahan-permasalahan yang dihadapi praktikan selama melaksanakan PPL di SMPN 9 Bandung antara lain:

A.       Penyusunan RPP

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran adalah membuat atau menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Demikian halnya penyusunan RPP menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh mahasiswa PPL atau praktikan ketika akan melakukan pengajaran di kelas. Dalam menyusun RPP praktikan diharuskan melakukan bimbingan terlebih dahulu dengan  guru pamong yang ada di SMPN 9 Bandung. Hal ini diharapkan agar praktikan mendapat arahan dan kejelasan bahan ajar/materi yang harus diberikan di kelas.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran  (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan  pengorganisasian  pembelajaran  untuk  mencapai  satu  kompetensi  dasar  yang  ditetapkan  dalam  Standar  Isi  dan  dijabarkan  dalam  silabus.  Maka  ringkasnya  RPP  adalah  rencana operasional kegiatan pembelajaran setiap atau beberapa KD dalam setiap tatap muka di kelas. Lingkup RPP paling  luas mencakup 1 (satu) Komptensi Dasar  yang  terdiri  atas  1  (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. RPP  harus  berupa  kegiatan  konkret  setapak  demi  setapak  yang  dilakukan  oleh  guru  di  kelas  dalam mendampingi  peserta  didik. Satu  hal  yang  amat  penting  dalam  penyusunan  RPP adalah  bahwa  kegiatan  pembelajaran  harus  diarahkan  agar  berfokus  pada  peserta  didik, sedangkan  guru  berperan  sebagai  pendamping,  fasilitator. Artinya,  ketika  guru  memilih pendekatan,  metode,  materi,  pengalaman  belajar,  interaksi  belajar  mengajar  harus memungkinkan  peserta  didik  berinteraksi  dan  aktif,  sedang  guru  memfasilitasi  dan mendampinginya.
Komponen-komponen  utama sebuah RPP adalah sebagai berikut:
1.         Tujuan Pembelajaran
2.         Materi Ajar
3.         Kegiatan pembelajaran
4.         Evaluasi
Adapunkesulitan yang dialami praktikan dalam penyusunan RPP dari mulai pertemuan pertama hingga pertemuan terakhir adalah:
1.         Penyusunan RPP pertama: masalah yang dialami yaitu penyusunan RPP harian dengan menggunakan kurikulum lama yaitu kurikulum 2006 yang dalam pelaksanaan sulit untuk diterapkan pada proses pembelajaran karena kurang memahami mengenai sitem dan penerapan kurikulum 2006 itu sendiri. Sebab saat kuliah praktikan mendapatkan pengarahan mengenai kurikulum 2013.
2.         Penyusunan RPP kedua: masalah yang dihadapi dalam menyusun RPP kedua ialah pembagian materi yang akan diajarkan dalam kelas dengan menyesuaikan dengan RPP yang akan dibuat.
3.         Penyusunan RPP ketiga : memilih dan menentukan model pembelajaran yang bisa merangsang keaktifan dan kreatifitas peserta didik, serta dapat menunjang dengan materi yang akan disampaiakan .
4.         Penyusunan RPP keempat:penggunaan model pembelajaran yang disusun dalam RPP harus sesuai dengan praktek dilapangan maka dari itu dirasakan kesulitan dalam mengelola waktu pembelajaran agar sesuai dengan RPP.
5.         Penyusunan RPP kelima: materi yang akan disampaikan mengenai Badan Usaha dan Perusahaan. Materi ini cukup banyak dan kompleks namun harus dikuasai. Materi tersebut cukup banyak, karena harus disampaikan dengahakan bisa tersampaikan dalam satu pertemuan (dua jam pelajaran) hal ini membuat praktikan kesulitan dalam pemilihan model pembelajaran dan memilih bagian materi yang menjadi prioritas dan menjadi prioritas.
6.         Penyusunan RPP keenam dan seterusnya: melaksanakan 5M yang dalam praktek dilapangan terkadang tidak sesuai dengan apa yang dibuat dalam RPP karena keterbatasan waktu pertemuan.

B.       Proses Penampilan

Penampilan mengajar merupakan hal yang paling ditunggu oleh seorang praktikan. Dimana proses penampilan adalah suatu medan pembelajaran, karena pada saat penampilanlah semua keterampilan serta pengetahuan yang dimiliki praktikan disalurkan. Selain itu, suasana pembelajaran di kelas menyenangkan atau tidaknya, tergantung pada proses penampilan.
Beberapa kesulitan lain yang dihadapi praktikan selamapertemuan di kelas adalah sebagai berikut :
1.      Dalam penampilan mengajar pertama pada tanggal 2 Februari 2015, praktikan mengajar di hari Senin kelas VII 7 pada jam ke ,5 dan 6. Dalam pertemuan pertama ini ada beberapa kesulitan, yang pertama adalah belum bisa beradaptasi dengan kondisi kelas yang sebenanrnya , yang kedua adalah kesulitan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik di dalam kelas, yang ketiga adalah rasa gugup karena meruoakan kali pertama berdiri dan mengajar didepan kelas yang sebenarnya. Namun semuanya berjalan cukup baik, walaupun masih banyak terdapat kekurangan
2.      Pada pertemuan kedua pada tanggal 3 Februari 2015, praktikan mengajar di hari selasa dikelas VII 8 pada jam ke 1 dan 2. Adapun kendala yang dihadapi oleh praktikan adalah dalam menguasai kelas. Praktikan juga masih merasa gugup dan malu. Praktikan belum beradaptasi dengan lingkungan kelas karena merupakan kali pertama masuk ke kelas tersebut.
3.      Pada pertemuan ketiga pada tanggal 4 Februari 2015, praktikan mengajar dikelas VII 7 pada jam ke 5 dan 6. Pada prakteknya semua kendala seperti dijelaskan diatas masih terasa karena ini merupakan pertemuan kedua pada setiap kelas yg samattrrr.
4.      Dalam pertemuan ke empat pada tanggal 6 Februari 2015, praktikan mengajar dikelas VII 8 pada jam ke 5 dan 6. Kendala yang dialami dalam proses pembelajaran adalah penyampaian materi ajar sehingga dapat dimengerti oleh peserta didik, dimana proses interaksi praktikan dan peserta didik belum berjalan begitu baik meskipun sudah ada kemajuan dari pertemuan sebelumnya. Memilih model pembelajaran agar kelas dan siswa dalam antusias dalam mengikuti proses pembelajaran.
5.      Dalam pertemuan kelima pada tanggal 9 Februari 2015, praktikan mengajar dikelas VII 7 jam ke 5 dan 6. Masalah yang dihadapi adalah kondisi kelas yang tidak kondusif karena sudah mencapai ahirdari waktu berlajar sekolah, serta kebisingan yang berasal dari luar kelas.
6.      Penampilan mengajar keenam tanggal  10 Februari 2015, praktikan mengajar dikelas VII 8 pada jam ke 1 dan 2. kendala yang dihadapi adalah kurangnya antusiasme siswa terhadap materi yang sedang dibahas.
7.      Penampilan mengajar ketujuh pada tanggal 11 Februari 2015, praktikan mengajar di kelas VII 7 pada jam ke 5 dan 6. Masalah yang dihadapi adalah siswa sulit diatur karena banyak mengobrol dibanding memperhatikan materi yang diajarkan. Cukup sulit untuk mengatur siswa di kelas ini.
8.      Penampilan mengajar kedelapan pada tanggal 13 Februari 2015, praktikan mengisi kelas VII 8 jam ke 5 dan 6.  Kesulitan yang dialami adalah siswa dikelas ini sulit sekali aktif hanya ada beberapa orang yang terlihat antusias.
9.      Penampilan ke Sembilan pada tanggal 16 Februari 2015, praktikan mengajar di kelas VII 7 pada jam ke 5 dan 6. Praktikan merasa kesulitan pada saat mengondisikan kelas agas siap untuk belajar, karena memang dikelas ini cukup sulit untuk dikontrol namun siswanya cukup aktif dan antusias.
10.  Pada penampilan kesepuluh tanggal 16 Februari 2015, dikelas VII 7 pada jam ke 1 dan 2. Kendala yang dialami adalah dalam mengondisikan kelas untuk presentasi, namun pada saat proses presentasi dan tanya jawab terlihat antusiasme dan kreatifitas siswa.
11.  Pada pertemuan ke sebelas pada tanggal 17 Februari 2015, praktikan mengajar di kelas VII 8 pada jam ke 1 dan 2. Kendala yang dialami adalah pada saat mengkondisikan siswa untuk pembagian kelompok dalam proses pembeljaran serta dalam proses presentasi ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan.
12.  Pada pertemuan kedua belas pada tanggal 18 Maret 2015, praktikan mengajar dikelas VII 7 pada jam ke 5 dan 6. Kendala yang dialami adalah pada saat mengkondisikan siswa untuk melakukan ulangan harian karena masih terdapat beberapa siswa yang mengobrol pada saat ulangan.
13.  Pada pertemuan ketiga belas pada tanggal 20 Maret 2015, praktikan mengajar dikelas VII 8 jam ke 5 dan 6. Kendala yang dialami adalah pada saat mengkondisikan siswa untuk melakukan ulangan harian karena masih ada beberapa siswa yang mengobrol dan tidak disiplin pada saat ulangan.
14.  Pada pertemuan ke empat belas dan seterusnya, adapun beberapa kendala yang dialami oleh praktikan adalah dalam mengatasi siswa yang mengobrol, metode dan strategi pengajaran agar kelas lebih aktif. Praktikan terus-menerus berusaha agar situasi kelas bisa kondusif dan siswa dapat menyerap materi yang telah diajarkan.


C.    Bimbingan Belajar/ Ekstrakurikuler
Kegiatan belajar di luar sekolah (ekstrakurikuler) merupakan salah satu sarana untuk pengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh siswa.Dalam hal ini guru pun harus ikut berperan serta dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan di sekolah, baik dalam kegitan akademik umumnya, dan non akademik khususnya. Misalnya dalam kegiatan diluar sekolah atau ekstrakurikuler.
Adapun kegiatan ekstrakurikuler di SMPN 9 Bandung di bagi kedalam dua kategori, yaitu : pertama, Ekstrakurikuler Wajib (Pramuka).Kemudian kategori yang kedua, Ekstrakurikuler pilihan, yang dilaksanakan setiap hari pada pulang sekolah disesuaikan dengan jadwal yang telah ditentukan. Adapun Ekstrakurikuler pilihan di SMPN 9 Bandung, diantaranya :
1.      Futsal
2.      PMR
3.      Paduan suara
4.      Bola Basket
5.      Sepak Bola
6.      dll
Adapun partisipasi praktikan dalam kegiatan Ekstrakurikuler wajib memiliki beberapa kendala, yaitu kurangnya koordinasi dari pihak praktikan dan pembina ekstrakurikuler tersebut, serta adanya keterbatasan waktu yang dimiliki oleh praktikan, dimana praktikan harus lebih konsentrasi dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran, sehingga kehadiran dan partisipasi praktikan dalam kegiatan ekstrakurikuler wajib tersebut pun kurang dan terbatas.
Namun, dalam kegiatan ekstrakurikuler pilihan praktikan memilih untuk membimbing salah satu ekstrakurikuler yaitu PMR.

D.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/ Tempat Latihan

Program Pengalaman Lapangan (PPL) juga menuntut praktikan untuk dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolah dan berperan aktif dalam kegiatan yang dilakukan sekolah. Sosialisasi yang dilakukan tidak hanya dengan siswa atau guru tetapi juga dengan seluruh warga sekolah seperti Kepala Sekolah, Wakasek, Bimbingan Konseling, petugas Perpustakaan dll.
Selain kegiatan belajar mengajar, praktikan juga melakukan kegiatan lainnya, diantaranya:
1.         Upacara Bendera
Upacara bendera dilaksanakan setiap hari senin padasetiap bulannya, dan juga pada hari-hari besar lainnya.
2.         Piket KBM
Piket KBM dilaksanakan untuk menunjang kegiatan pendidikan di sekolah. Selama PPL, para praktikan diberikan giliran satu kali dalam setiap minggunya. Adapun tugas piket KBM adalah mencatat absen siswa dan guru, menginformasikan pengumuman, menyampaikan tugas bagi guru yang berhalangan hadir dan mengisi kelas yang kosong. Kendala yang dihadapi praktikan selama melaksanakan Piket KBM adalah sebagai berikut :
                               a.       Adanya keterlambatan dari sebagian kelas dalam menyampaikan absen atau daftar hadir, sehinga praktikan harus mengambil secara satu-persatu ke kelasnya masing-masing.
                              b.       Adakalanya para guru pada satu waktu banyak yang berhalangan hadir, sehingga praktikan kebingungan dalam mengisi kelas yang kosong serta mengawasi tugas yang telah diberikan guru yang bersangkutan. Bahkan praktikan sering merasakan keteteran dalam melaksankan tugas sebagai guru piket.
                               c.       Terkadang adakalanya ruang piket kosong tanpa orang sama sekali, sehingga ada tamu atau siswa yang ingin meminta izin terabaikan, dikarenakan praktikan sedang mengisi atau mengawasi beberapa kelas yang kosong.
3.         Piket Perpustakaan
Dalam melaksanakan tugas piket perpustakaan, mahasiswa PPL mendapat giliran satu minggu sekali. Tugas yang dilakukan ketika piket perpustakaan adalah mencatat data buku dan menyampul buku.
Pada dasarnya tidak ada kesulitan dalam melaksanakan piket perpustakaan, karena tugas nya cukup mudah. Namun seiring berjalan nya waktu, praktikan dihadapkan dengan beberapa kendala seperti saat melaksanakan tugas piket perpustakaan diberi tugas oleh guru untuk mengisi kelas atau mengerjakan sesuatu sehingga waktu piket di perpustakaan terganggu.

E.     Proses Bimbingan

1.         Dengan Guru Pamong PPL
Bimbingan dengan Guru Pamong PPL biasanya dilakukan sebelum praktikan tampil mengajar dan sesudah praktikan tampil mengajar. Terkadang saat jam-jam luang saat tidak ada jam mengajar. Adapun materi yang dibahas dalam bimbingan menyangkut RPP, materi pembelajaran, metode dan model pembelajaran dan media pembelajaran. Bimbingan dengan guru pamong selalu dilakukan di saat jam sekolah, biasanya dilakukan di ruangan guru, ataupun dikelas.
Pada dasarnya proses bimbingan dengan guru pamong tidak mengalami kesulitan, namun adakalanya proses bimbingan terkadang terhambat dan tidak rutin. Terdapat beberapa kendala pula seperti guru pamong dan praktikan masih kebingungan dalam pelaksanaan kurikulum 2006 yang akan dipraktekan dalam kelas, penyusunan RPP yang berubah- ubah dengan berbagai versi serta penampilan dan penyampaian materi yang akan mendorong siswa untuk berpikir aktif, kritis dan kreatif.
2.         Dengan Dosen Pembimbing PPL
Proses bimbingan dengan dosen pun berjalan dengan lancar. Beliau selalu menyempatkan waktunya untuk melayani praktikan ketika melakukan bimbingan. Beliau memberikan motivasi dan saran untuk praktikan agar bisa melalui PPL dengan baik.
3.      Dengan Supervisor
Proses bimbingan yang dilakukan dengan supervisor berjalan dengan baik. Para supervisor banyak memberikan arahan dan masukan positif bagi para praktikan yang melaksanakan kegiatan pembelajaran disekolah tersebut. Supervisor memiliki arti sebagai pengawas utama. Dalam hal ini supervisor PPL adalah koordinator Guru Pamong (Wakasek kurikulum) dan Kepala Sekolah. Bimbingan yang dilakukan praktikan yaitu terkait segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu kegiatan mengajar serta tugas diluar mengajar. Kesulitan yang dihadapi adalah pada proses bimbingan dengan supervisor hanya pada waktu-waktu tertentu atau kondisi yang mendesak saja. Tetapi, secara kesuluran proses bimbingan pun berjalan lancar, karena supervisor selalu memberikan penjelasan serta infromasi yang mudah dipahami oleh praktikan.




BAB II

FAKTOR PENYEBAB DARI MASALAH YANG DIALAMI

Dalam setiap masalah yang dihadapi pasti terdapat faktor penyebab dari masalah tersebut. Adapun faktor-faktor tersebut dapat berasal dari praktikan itu sendiri ataupun dari luar. Hal itu disebabkan mungkin karena kurangnya koordinasi serta informasi ataupun karena kurang telatennya praktikan dalam melaksanakan tugas. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

A.     Penyusunan RPP

Adapun faktor-faktor penyebab dari masalah yang dialami dalam penyusunan RPP adalah sebagai berikut :
1.      Belum sepenuhnya memahami bagaimana dan seperti apa kurikulum 2006 itu. Belum terbiasanya praktikan menyusun RPP secara kurikulum 2006. Belum terbiasanya praktikan dalam menyusun RPP dengan tepat sasaran dan sempurna. Dalam proses pembuatan perlunya berlatih beberapa kali, melihat berbagai contoh RPP yang benar dan bimbingan dari pamong dan pembimbing. Sehingga dalam penyusunan diawal- awal pelaksanaan pembelajaran, masih mengalami kesulitan.
2.       Tidak semua materi dapat disampaikan dalam satu pertemuan. Dalam praktek dilapangan karena kondisi dalam kelas tidak bisa diprediksi ada kalanya sulit sekali untuk mengontrol waktu pembelajaran.
3.      Tidak semua siswa  dapat menerima materi dengan cepat dan baik. Setiap siswa memiliki minat yang berbeda terhadap berbagai mata pelajaran yang sulit ada siswa yang kurang antusias terhadap pelajaran ini merupakan tantangan supaya kondisi kelas menjadi aktif terlepas dari minat dan tidaknya siswa terhadap pelajaran, hal ini berkaitan juga dengan model pembelajaran yang dipilih..
4.      dalam pelaksanaannya, banyak kemungkinan-kemungkinan tidak terduga yang terkadang tidak tercantum dalam RPP, sehingga dalam prakteknya, terkadang tidak tepat sesuai dengan RPP yang telah dirancang.
5.      Dalam prakteknya, terkadang kegiatan inti yang tercantum dalam RPP tidak sepenuhnya dilaksanakan karena kondisi siswa dan kelas yang terkadang diluar dugaan melenceng dengan apa yang disusun dalam RPP. Sehingga praktikan terkadang tidak melaksanakan 5M sepenuhnya saat proses pembelajaran.

B.     Proses Penampilan

Dalam proses penampilan mengajar, berjalanlancar atau tidaknya tentu ada faktor penyebab dari masalah tersebut. Adapun faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Karena baru pertama kali praktikan masuk kelas, sehingga praktikan masih belum beradaptasi dengan kondisi siswa yang baru, sehingga timbulah rasa canggung dan gugup pada diri praktikan.
2.      Siswa masih belum serius, karena belum terlalu mengenal dengan guru praktikan, dan terkadang siswa secara melakukan hal yang tidak serius seperti mengobrol dan datang terlambat ke kelas.
3.      Karena materi yang cukup banyak, sehingga praktikan kebingungan dalam menyingkat materi tersebut. Selain itu, banyak pertanyaan siswa yang memerlukan jawaban yang jelas, hal itu menjadi salahsatu penghambat materi tidak tersampaikan sampai selesai. Kemudian kesulitan praktikan dalam menjawab pertanyaan yang khususnya berkaitan dengan penjelasan yang rumit karena pemilihan bahasa yang dilakuka oleh praktikan terkadang sulit dipahami siswa.
4.      Karena metode, strategi dan model yang kurang tepat sehingga membuat suasana kelas menjadi kurang sesuai dengan apa yang diharapkan

C.     Bimbingan Belajar/ Ekstrakurikuler

Adapun faktor-faktor yang dialami selama kegiatan bimbingan belajar/ ekstrakurikuler, sebagai berikut :
1.         Waktu yang dimiliki praktikan cukup padat dalam menyiapkan perangkat pembelajaran, sehingga praktikan belum bisa menyempatkan waktu secara rutin untuk kegiatan ekstrakurikuler.
2.         Adanya kurang komunikasi dan koordinasi, baik praktikan ataupun pembina kegiatan ekstrakurikuler itu sendiri, berkaitan dengan deskripsi tugas praktikan.
3.         Adakalanya praktikan lebih mementingkan tugas utama terlebih dahulu, ketimbang kegitan ekstrakurikuler.
4.         Kurangnya pengalaman praktikan dalam keterampilan ekstrakulikuler

D.    Partisipasi dalam Kehidupan Sekolah/ Tempat Latihan

Partisipasi praktikan dilingkungan sekolah menunjukan kepedulian dan kesadaran praktikan bahwa PPL tidak hanya berkisar antara kegiatan belajar mengajar saja, namun yang teramat utama adalah untuk mengembangkan interpersonal relationship dengan insan-insan pendidikan yang ada dilingkungan sekolah. Adapun faktor-faktor yang dialami praktikan dalam partisipasi kehidupan sekolah (tempat latihan), diantaranya sebagai berikut :
1.      Kurangnya komunikasi yang terjalin antara praktikan dengan guru- guru disekolah sehingga praktikan agak kesulitan untuk berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungan SMPN 9 Bandung.
2.      Kurangnya koordinasi dengan praktikan lain, karena masalah waktu yang berbeda-beda dalam bertugas dan memiliki kesibukan masing- masing yang diutamakan untuk proses pembelajaran.

E.     Proses Bimbingan

1.         Dengan Guru Pamong PPL

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya kendala bimbingan dengan guru pamong kadang tidak rutin, disebabkan karena kesibukan beliau dan kadang praktikan pun tidak sempat bimbingan, karena waktu yang cukup padat antara praktikan dan guru pamong. Namun, praktikan selalu menyempatkan disela-sela waktu yang memungkinkan.

2.         Dengan Dosen Pembimbing PPL

Faktor yang menyebabkan terjadinya kendala dengan dosen pembimbing PPL yaitu, kesibukan yang dijalani oleh dosen pembimbing sehingga dalam melakukan pertemuan untuk bimbingan agak sulit dilaksanakan, selain itu padatnya jadwal mengajar praktikan sehingga sulit untuk pergi kekampus menemui dosen.

3.         Dengan Supervisor

Selain itu pula, faktor yang menyebabkan terjadinya kendala dengan supervisor adalah dari praktikan itu sendiri. Yaitu, hanya bimbingan di waktu-waktu tertentu saja, disebabkan dengan kepadatan tugas yang dimiliki oleh praktikan, sertakesibukan dari supervisor itu sendiri. Namun, secara keseluruhan bimbingan dengan supervisor pun beralan lancar.
















BAB III

UPAYA PENANGGULANGAN MASALAH

Berbagaimasalah yang dihadapkan kepada praktikan, tak berarti apa-apa jika praktikan tidak bisa mengatasinya. Karena pada intinya, masalah datang agar kita dapat mengambil hikmah/pelajaran dari masalah tersebut, serta senantiasa berupaya untuk mengatasainya.
Adapun upaya dalam penanggulangan masalah yang dihadapi praktikan, adalah sebagai berikut :
Adapun upaya dalam penanggulangan masalah yang dialami dalam penyusunan RPP adalah sebagai berikut :
1.      Dengan melakukan proses bimbingan pada guru pamong guna memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan praktikan terhadap penyusunan RPP. Guru pamong senantiasa memberikan masukan dan saran terhadap praktikan sehingga terjadi proses perbaikan dari praktikan dalam penyusunan RPP kearah yang lebih baik.
2.      Melalui proses bimbingan dan konsultasi terhadap dosen pembimbing  dengan melakukan diskusi untuk membuat RPP yang sesuai dengan ketentuan. Dosen pembimbing memberikan arahan dan saran yang memberikan banyak perbaikan terhadap praktikan.
3.      Adanya pemeriksaan baik dari guru pamong maupun dosen pembimbing agar adanya evaluasi dari RPP yang telah disusun serta bisa diperbaiki kesalahan kesalahan yang terdapat dalam RPP.
4.      mendiskusikan RPP dengan praktikan lain untuk mendapatkan pengetahuan baru dan bisa menjadi salah satu acuan reverensi dalam penyusunan RPP
Setiap kesalahan atau kesulitan tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena akan mengurangi kualitas mengajar praktikan. Proses penampilan merupakan kegiatan yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Proses ini dapat menjadi acuan sejauh mana pengertian, pemahaman,kompetensi dan performa praktikan dalam sempurnanya proses mengajar praktikan. Maka  upaya penanggulangan masalah dalam proses penampilan adalah sebagai berikut :
1.      Praktikan menyiapkan bahan ajar dan model pembelajaranyang terus divarisikan agar kelas dapat berjalan dengan baik, siswa antusias dan aktif.
2.      Praktikan berusaha berkomunikasi dengan siswa baik pada saat belajar  dikelas maupun diluar kelas, dengan harapan praktikan dan siswa kedepannya bisa berkomunikasi dengan baik yang bisa menunjang pada saat pembelajaran.
3.      Praktikan memberikan games atau pertanyaan-pertanyaan  pada siswa yang bisa menumbuhkan rasa ingin tahu siswa sehingga pada saat belajar muncul antusiasme dari siswa.
4.      Memberikan materi secara lantang dan jelas aagar setiap siswa dikelas dan dapat mendengar serta memahami materi yang sedang dibahas.
5.      Menegur siswa yang tidak mematuhi aturan saat jam pelajaran dimulai dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan dampak buruk pada peserta didik.
6.      Membiasakan peserta didik untuk tidak berbicara saat praktikan sedang menerangkan dan boleh berbicara ketika praktikan mempersilahkan dalam diskusi atau bertanya.
7.      Berkonsultasi dengan guru pamong mengenai hal yang baik digunakan saat proses pembelajaran agar siswa ingin dan tidak bosan dalam proses belajar yang sedang berlangsung
Upaya penanggulangan masalah dalam kegiatan bimbingan belajar/ ekstrakurikuler, diantaranya sebagai berikut :
1.      Praktikan berusaha menyempatkan waktu untuk hadir dalam setiap ekstrakurikuler, walaupun hanya sebentar sekedar melihat saja.
2.         Praktikan mencari info tambahan kepada setiap ketua/koordinator dari setiap ekstrakurikuler tersebut, dan memberikan pengarahan di luar waktu ekstrakurikuler atau disela-sela waktu istirahat.
3.         Adanya koordinasi yang baik antara Pembina atau anggota dari setiap ekstrakulikuler yang ada dilingkungan sekolah dengan praktikan.

Adapun upaya penanggulangan masalah dalam partisipasi kehidupan sekolah (tempat latihan), diantaranya sebagai berikut :
1.   Dalam lingkungan sekolah berusaha berpenampilan rapih, sopan dan bersikap ramah kepada seluruh warga sekolah.
2.         Pada kegiatan- kegiatan sekolah, mengikuti dengan maksimal dan senang hati. Dengan ikut serta berpartisipasi aktif dan membantu dengan semampu yang kita bisa
3.         Praktikan berusaha melaksanakan tugas semenyenangkan mungkin.
4.         Berusaha membantu meringankan tugas-tugas atau pekerjaan-pekerjaan yang belum dapat diselesaikan ketika praktikan memiliki waktu luang dan kesempatan.
5.         Pada piket perpustakaan, praktikan mengerjakan tugas sambil sharing dengan koordinator Perpus, sehingga pekerjaan pun akan terasa ringan dan tidak terlalu berat.
6.         Menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh elemen yang berada di lingkungan SMPN 9 Bandung.
Salahsatu upaya yang dilakukan praktikan dalam proses bimbingan adalah dengan terus bertanya hal- hal yang kurang dipahami dan harus dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik. supaya bimbingan lancar dengan guru pamong adalah bertanya setiap akan melakukan sesuatu. Pada saat  waktu luang guru pamong, bisa sambil ngobrol ataupun lainnya. Sehingga secara tidak langsung praktikan pun melakukan bimbingan. Dan tetap dalam komando guru pamong, serta patuh dan ta’at akan perintah dari guru pamong.
Salahsatu upaya yang dilakukan praktikan adalah menghubungi dosen pembimbing, dan melakukan bimbingan ke kampus pada waktu yang telah ditentukan oleh dosen tersebut. Meminta nasehat dan motivasi supaya dilancarkan dalam melaksanakan PPL. Terus berkoordinasi via sms atau telepon secara rutin.
Menyesuaikan waktu bimbingan, meminta pendapat, arahan, dan informasi terkait perubahan atau apapun. Mematuhi peraturan sekolah dengan baik, dan menerima teguran jika praktikan melakukan kesalahan.







BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A.       Kesimpulan

Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sebagai Perguruan Tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang menyiapkan peserta didik menjadi tenaga kependidikan dan keguruan yang memiliki kemampuan akademik dan profesional.
Selama melaksanakan kegiatan PPL praktikan mengalami masalah-masalah terkait proses pelaksanaannya serta mendapatkan ilmu dari pihak-pihak terkait mengenai cara menangani masalah yang ada. Masalah-masalah yang terjadi terkait penyusunan RPP, proses penampilan mengajar, ekstra kurikuler, partisipasi dalam kehidupan sekolah dan proses bimbingan. Masalah-masalah yang dialami disebabkan oleh beberapa faktor baik eksternal maupun internal atau berasal dari diri praktikan sendiri. Namun demikian, Selama melaksanakan PPL di SMP Negeri 9 Bandung praktikan mendapatkan banyak pengalaman berharga selama terjun langsung ke lapangan, diantaranya cara pengelolaan kelas, penyusunan RPP serta bersosialisasi dengan pihak sekolah. Sehingga mudah-mudahan bisa menjadi guru yang profesional dan bisa melahirkan anak-anak bangsa yang kreatif, inovatif, dan cerdas sehingga bisa menciptakan Indonesia sejahtera.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama proses PPL, maka praktikan bisa menarik kesimpulan, yaitu pertama, Dengan adanya program pengalaman yang merupakan latihan pelaksanaan program mengajar secara langsung disekolah, dapat bermanfaat bagi praktikan, terutama bekal dimasa yang akan datang. Kedua, adanya bimbingan dari para guru dan staf yang terkait didalam lingkungan sekolah sehingga didapat pengalaman dan pelajaran yang berharga. Ketiga, kegiatan PPL ini dapat terselenggara dengan lancar berkat kerjasama semua pihak.baik pihak SMP Negeri 9 Bandung  maupun pihak UPT PPL UPI. Keempat, dengan adanya kegiatan PPL bahwa dunia pendidikan di sekolah secara langsung berbeda dengan yang diperoleh diperkuliahan. Kelima, segala kesulitan yang dihadapi selama PPL dapat teratasi dengan baik berkat bantuan dari Guru Pamong PPL yang senantiasa siap membantu praktikan dengan penuh kesabaran. Keenam, mengikuti kegiatan PPL di SMP Negeri 9 Bandung adalah suatu pengalaman yang sangat berkesan dan berharga..

B.       Saran

1.         Untuk Praktikan
Ketika akan melakukan PPL, seorang praktikan harus mempersiapkan seluruh kompetensi yang dimiliknya. Selain itu, praktikan harus mengenal lingkungan dan karakter sekolah sebelum memilih tempat PPL. mengkonsultasikan setiap permasalahan yang berhubungan dengan pembuatan RPP, penampilan di kelas, kepada guru pamong dan dosen pembimbing. Praktikan harus mengikuti setiap arahan yang diberikan oleh supervisor dan pihak sekolah, serta mematuhi tata tertib sekolah yang telah berlaku.
Melakukan persiapan dengan mantap dan matang untuk memberikan hasil yang terbaik saat pelaksanaan pembelajaran. Baik itu materi, maupun hal lainnya yang menunjang proses belajar mengajar.
2.         Pihak Sekolah
Saran untuk pihak sekolah supaya memberikan pengarahan serta mempertegas lagi tugas dan wewenang praktikan. Memonitoring dan memberikan bimbingan dalam kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh praktikan. Dengan adanya kegiatan PPL ini diharapkan hubungan kerjasama yang baik antar dua lembaga pendidikan ini terus berlanjut, terutama membantu praktikan dalam mengembangkan potensi diri dalam kegiatan PPL di SMPN 9 Bandung.
3.         Pihak Universitas (UPT PPL)
Untuk pihak Universitas supaya mensosialisasikan kegiatan PPL secara luas dan tidak telalu mendadak. Senantiasa mengontrol para praktikan di Sekolah, mengontrol guru pamong dan dosen pembimbing PPL, dan meningkatkan kerjasama antara UPT PPL UPI dengan pihak sekolah perlu dijaga agar terjalin hubungan yang baik dan berkelanjutan.


DAFTAR PUSTAKA

Asri, Z. (2012). Micro Teaching. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Direktorat Akademik. (2013). Paduan Program Pengalaman Lapangan (PPL) Kependidikan dan Tenaga Pendidik. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Universitas Pendidikan Indonesia. (2010). Pedoman Akademik Universitas  Pendidikan Indonesia. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional Universitas Pendidikan Indonesia.

 














LAMPIRAN-LAMPIRAN

*Jadwal Mengajar
*Kegiatan PPL
*RPP
Jadwal mengajar
No
kelas
hari
jam
1
VII 7
Senin jam 5-6
16.50 – 17.10
2
VII 8
Selasa jam 1–2
12.50 – 14.10
3
VII 7
Rabu jam 5-6
15.30 – 16.50
4
VII 8
Jumat jam  5-6
15.50 – 17-10


No comments:

Post a Comment