6/01/2013

Makalah Diagnostik Kesulitan Belajar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Setiap siswa berhak memperoleh hasil belajar dengan baik. Namun ada kendala dalam pembelajarannya. Dimana setiap siswa tidak mempunyai kesamaan dalam proses pembelajaran. Di setiap sekolah-sekolah yang pada umumnya hanya ditujukan pada siswa yang mempunyai kemampuan rata-rata. Sedangkan siswa yang berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang terabaikan. Hal inilah yang mengakibatkan adanya kesulitan belajar pada siswa-siswa yang berkemampuan lebih dan berkemampuan kurang.
Untuk dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan kesulitan belajar pada siswa yang berkemampuan kurang dan berkemampuan lebih, maka terlebih dahulu guru harus mendiagnosik siswa-siswa yang lain dari rata-rata itu. Tentunya dalam mendiagnosis hal tersebut, tidak mudah dalam melaksanakannya. Ada beberapa langkah dalam mendiagnosis siswa yang kesulitan belajar.
Langkah selanjutnya ini ada beberapa cara untuk mengatasinya. Selain itu, adanya remedial yaitu suatu bentuk dari tindaklanjut langkah diagnostik atau bisa disebut penyelesaiannya. Dalam remedial ini adanya suatu kefungsian bagi guru dalam remedial serta prinsip dari perbaikan yang harus ada dalam langkah-langkah.



1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, kami merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1.2.1        Apa yang dimaksud dengan diagnostik dan remidial kesulitan belajar?
1.2.2        Bagaimana langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya?
1.2.3        Bagaimana tindak lanjut kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya?
1.2.4        Bagaiaman fungsi remedial bagi guru dan prinsip melakukan program perbaikan?

1.3      Tujuan Penulisan Makalah

Sejalan dengan rumusan masalah diatas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.3.1        Memahami konsep dasar diagnostik dan remidial kesulitan belajar.
1.3.2        Memahami langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya.
1.3.3        Memahami tindak lanjut kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya.
1.3.4        Memahami fungsi remedial bagi guru dan prinsip melakukan program perbaikan.

1.4      Manfaat Penulisan Makalah

Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep penelitian tindakan kelas. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.4.1        penulis, sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuan khususnya tentang langkah-langkah operasional diagnostik dan remidial kesulitan belajar;
1.4.2        pembaca, sebagai media informasi tentang langkah-langkah operasional diagnostik dan remidial kesulitan belajar baik secara teoretis maupun secara praktis.

1.5      Prosedur Makalah
Prosedur yang digunakan kami pada makalah ini yaitu menggunakan metode kepustakaan yaitu mencari sumber dari buku-buku dan artikel, baik secara konvensional maupun secara elektronik.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Konsep dasar diagnostik dan remidial kesulitan belajar.
“Diagnosis berarti kefasihan dalam membedakan penyakit yang satu dengan yang lain atau penentuan penyakit dengan menggunakan ilmu” (Busono, 1988: 1). Dilihat dari akar katanya, “diagnosa atau diagnosis berasal dari kata Yunani atau Greek “dia (“apart”) dan gigno skein yang berarti mengetahui. “Gnosis” berarti pengetahuan/ pengenalan/ ilmu” (Busono, 1988: 1).
Tes diagnostik itu sendiri menurut Angelina dan Ch. Enny (Marsetyorini dan Murwaningtyas, 2012 : 60) “berguna untuk mengetahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, termasuk kesalahan pemahaman konsep”. Dan menurut Mardapi, ”hasil tes ini memberikan informasi tentang konsep-konsep yang belum dipahami dan yang telah dipahami” (Marsetyorini dan Murwaningtyas, 2012 : 60). Dari hasil analisis itu maka diketahui kelemahan-kelemahan siswa dalam mempelajari pelajaran. Langkah selanjutnya adalah pemecahan kesulitan yaitu diadakannya pembelajaran remedial.
Sedangkan pengertian kesulitan belajar adalah suatu kejadian yang dialami siswa saat proses pembelajaran itu berlangsung. Penurunan kinerja akademik dan prestasi belajar di sekolah merupakan contoh yang dapat terlihat dari siswa yang mengalami kesulitan belajar. Selain itu juga dapat terlihat dari perilaku yang ditujukan oleh siswa. Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yakni “faktor intern siswa dan faktor ekstern siswa” (Syah, 2008:184).
2.1.1        Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yakni (Syah, 2008:185):
a.       yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/ intelegensi siwa;
b.      yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;
c.       yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).
2.1.2        Faktor ekstern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi (Syah, 2008:185):
a.       Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b.      Lingkungan perkampungan/ masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
c.       Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Adapun ada faktor khusus yang ikut mempengaruhi kesulitan belajar siswa. Faktor khusus atau dapat dikatakan sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Yang menurut Reber (Syah, 2008:186), sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya keabnormalan psikis yang menimbulkan kesulitan belajar itu terdiri atas:
a.       Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca.
b.      Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis.
c.       Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar matematika.
Perlu diketahui, bahwasannya siswa yang mengalami sindrom ini memiliki potensi IQ yang normal. Selain itu siswa yang mengalami sindrom bahkan mempunyai IQ diatas rata-rata.
2.2  Langkah-langkah diagnostik kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya.
Sebelum adanya suatu pemecahan masalah kesulitan belajar, perlu diadakannya identifikasi. Upaya ini disebut dengan diagnostik. Ada banyak langkah-langkah diagnostik, salahsatunya adalah prosedur Weerner dan Senf (Syah, 2008:187), diantaranya:
2.2.1        Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
Dengan cara menandai siapa siswa yang diduga mengalami kesulitan. Contohnya di dalam kelas guru sudah menandai Ojan sebagai siswa yang mengalami kesulitan belajar. Diantaranya dapat dilihat dari :
a.       Hasil belajar Sejarah yang dicapai  Ojan lebih rendah dibawah rata-rata.
b.      Hasil belajar Sejarah yang dicapai Ojan sekarang lebih rendah dibanding sebelumnya.
c.       Hasil belajar Sejarah yang dicapai oleh Ojan tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan.
d.      Lambatnya Ojan dalam melakukan tugas-tugas belajar.
e.       Ojan menunjukkan sikap yang kurang wajar, misalnya masa bodoh dengan proses belajar dan pembelajaran, mendapat nilai kurang tidak menyesal, dst.
f.       Ojan menunjukkan perilaku yang menyimpang dari norma, misalnya membolos, pulang sebelum waktunya, dst.
g.      Ojan menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, misalnya mudah tersinggung, suka menyendiri, bertindak agresif, dst.
2.2.2        Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Berkaitan dengan mengidentifikasi secara fisik. Dimana guru juga harus peka akan hal ini. Karena pada dasarnya setiap siswa memiliki kelebihan dan kelemahan yang berbeda-beda dalam penglihatan dan pendengarannya dalam proses pembelajaran. Contohnya siswa Ojan diidentifikasi penglihatan dan pendengarannya oleh gurunya di kelas, daranya dengan:
a.       Identifikasi penglihatan: Guru melakukan pengujian penglihatan kepada Ojan dengan cara memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan sampai jajaran paling belakang.
b.      Identifikasi pendengaran: Guru melakukan pengujian pendengaran kepada Ojan dengan cara memindahkan Ojan untuk duduk dari jajaran paling depan sampai jajaran paling belakang. Serta guru harus menyesuaikan volume suaranya.
2.2.3        Mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.
Hal itu berkaitan dengan latar belakang dan faktor penyebab. Menurut Umar dan Sartono (Umar dan Sartono, 2001 : 55) mengungkapkan latar belakang kesulitan, dengan cara :
a.       Menganalisis dokomen-dokumen tentang siswa yang bersangkutan yang mencakup : identitas pribadi, riwayat pendidikan, prestasi belajar, latar belakang kehidupan keluarga, bakat dan minatnya, kecerdasan, cita-citanya, pribadi serta lingkungannya ( social dan kulturalnya), kesehatan dan hobinya dst.
b.      Melakukan wawancara dengan siswa, orang tua siswa yang bersangkutan, dst.
2.2.4        Memeberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
Tes dalam bidang tertentu misalnya dalam bidang mata pelajaran Sejarah dengan materi Hindu-Budha yang diberikan kepada Ojan berupa soal-soal Pilihan Ganda dan soal Esay
2.2.5        Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Biasanya dalam sekolah mengadakan tes psikologi yang dibantu oleh klinik psikologi dalam mengukur kemampuan intelegensi (IQ) siswa termasuk Ojan. Selain itu juga bisa dilakukan sendiri-sendiri, sesuai dengan pernyataan bahwa “untuk keperluan tes IQ, guru dan orangtua siswa dapat berhubungan dengan klinik psikologi” (Syah, 1999: 175). Dari hasil tes tersebut dapat ditindak lanjuti berkaitan pemecahan masalah sesuai dengan kesulitan belajar siswa. 
Adapun langkah-langkah yang lainnya dalam diagnosis kesulitan belajar siswa dan pembelajaran remedial dalam materi operasi pada pecahan bentuk Aljabar sebagai berikut (Marsetyorini dan Murwaningtyas, 2012: 62), dalam hal ini mungkin tidak menutup kemungkinan digunakan dalam diagnosis kesulitan belajar siswa dan pembelajaran remedial dalam pelajaran yang lainnya :
a.       Identifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
b.      Melakolisasi letak kesulitan (permasalahan).
c.       Identifikasi penyebab kesulitan belajar.
d.      Menentukan bantuan dengan pembelajaran remedial.
e.       Tindak lanjut dari pembelajaran remedial.

2.3  Tindak lanjut kesulitan belajar beserta ilustrasi kasusnya.
Setelah diadakannya diagnosis dalam kesulitan belajar, maka ada langkah langkah selanjutnya dalam menentukan tindakan. Dalam melakukan tindak lanjut siswa yang mengalami kesulitan belajar, dilakukan terlebih dahulu beberapa hal penting, diantaranya (Syah, 2011: 173-175):


2.3.1        Analisis hasil diagnosis
Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga kesulitan khusus yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.
2.3.2        Menentukan kecakapan bidang bermasalah
Berdasarkan hasil analisis tadi, guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikatagorikan menjadi tiga macam.
a.       Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.
b.      Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua.
c.       Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
Bidang kecakapan yang tidak dapat ditangani atau terlalu sulit untuk ditangani baik oleh guru maupun orang tua dapat bersumber dari kasus-kasus tunagrahita (lemah mental) dan kecanduan narkotika. Yang termasuk dalam lingkup dua macam kasus yang bermasalah berat ini dipandang tidak berketerampilan (unskilled people). Oleh karenanya, para siswa yang mengalami kedua masalah tersebut tidak hanya memerlukan pendidikan khusus, tetapi juga memerlukan perawatan khusus.
2.3.3        Menyusun program perbaikan
Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :
a.    Tujuan pengajaran remedial.
b.   Materi pengajaran remedial.
c.    Metode pengajaran remedial.
d.   Alokasi waktu pengajaran remedial.
e.    Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti pengajaran remedial.
2.3.4        Melaksanakan program perbaikan
Pada prinsipnya, program pengajara remedial itu lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa dimana saja., asal tempat itu memungkinkan siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut. Namun patut dipertimbangkan oleh guru pembimbing kemungkinan digunakannya ruang bimbingan dan penyuluhan yang tersedia di sekolah dalam rangka mendayagunakan ruang bp tersebut.

2.4  Memahami fungsi remedial bagi guru dan prinsip melakukan program perbaikan.
2.4.1        Fungsi remedial bagi guru
Bagi guru itu sendiri, pengajaran remedial memiliki beberapa fungsi ( Chrisnajanti, 2002: 83) yaitu:
a.       fungsi korektif yang memungkinkan terjadinya perbaikan hasil belajar dan perbaikan segisegi kepribadian siswa,
b.      fungsi pemahaman yang memungkinkan siswa memahami kemampuan dan kelemahannya serta memungkinkan guru menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai dengan kondisi siswa,
c.       fungsi penyesuaian yang memungkinkan siswa menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan memungkinkan guru menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai dengan kemampuannya,
d.      fungsi pengayaan yang memungkinkan siswa menguasai materi lebih banyak dan mendalam serta memungkinkan guru mengembangkan berbagai metode yang sesuai dengan karakteristik siswa,
e.       fungsi akseleratif yang memungkinkan siswa mempercepat proses belajarnya dalam menguasai materi yang disajikan dan yang terakhir
f.       fungsi terapeutik yang memungkinkan terjadinya perbaikan segi-segi kepribadian yang menunjang keberhasilan belajar.
2.4.2        Prinsip melakukan program perbaikan
Selanjutnya guru melaksanakan program perbaikan. Dalam melaksanakan program ini, ada beberapa yang harus diperhatikan, diantaranya:
a.       Dilaksanakan lebih cepat lebih baik.
b.      Dilaksanakan di tempat “memungkinkan klien (siswa memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengajaran perbaikan tersebut” (Syah, 2008: 193).
c.       Guru dianjurkan mempelajari “buku-buku khusus mengenai bimbingan dan penyuluhan” (Syah, 2008: 193).
d.      Guru dianjurkan mempertimbangkan penggunanaan model-model mengajar yang sesui dengan cara mendukung kesulitan belajar siswa tersebut.











BAB III
PENUTUP

3.1  Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya kami dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
Diagnosis dalam kesulitan belajar adalah suatu tindakan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa. Kesulitan belajar adalah suatu kejadian yang dialami siswa saat proses pembelajaran itu berlangsung.
Langkah-langkah dalam diagnosis kesulitan belajar terdiri dari melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran, memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar, mewawancarai orangtua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar, memeberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa, dan memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar. Khusus untuk langkah terakhir itu memerlukan bantuan klinik psikologi.
Setelah mengetahui letak dimana kesulitan belajar itu, maka langkah selanjutnya adalah penyelesaiannya. Dalam penyelesaiannya serta tindak lanjutannya, terdiri dari beberapa langkan, diantaranya analisis hasil diagnosis, menentukan kecakapan bidang bermasalah, menyusun program perbaikan, dan melaksanakan program perbaikan.
Bagi guru itu sendiri, pengajaran remedial memiliki beberapa fungsi, diantaranya fungsi korektif, fungsi pemahaman, fungsi penyesuaian, fungsi pengayaan, fungsi akseleratif, dan fungsi terapeutik. Selain itu, dalam usaha perbaikan harus memperhatikan hal yang penting.
3.2  Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, kami merumuskan saran sebagai berikut.       
·         Guru seharusnya peka terhadap apa yang menjadi kesulitan siswa.
·         Guru tidak menjadikan hal ini adalah hal yang sepele, namun harus dijadikan hal yang penting.
·         Harus adanya keprofesionalnya seorang guru dalam bidang bimbingan dan konseling ini.












DAFTAR PUSTAKA

Busono, Mardiati. (1988). Diagnosis dalam Pendidikan. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Chrisnajanti, Wiwik. (2002). Pengaruh Program Remedial terhadap Ketuntasan Belajar Siswa. Dalam Jurnal Pendidikan Penabur.
[Online]. Vol 1. (1) 6 halaman.
Tersedia:http://www.bpkpenabur.or.id/files/Hal.81Pengaruh_Program_Remedial_terhadap_Ketuntasan_Belajar_Siswa.pdf [26 Febuari 2013].
Marsetyorini, Angelina Dwi dan Murwaningtyas, Ch Enny. (2012). Diagnosis Kesulitan Belajar Siswa dan Pembelajaran Remedial dalam Materi Operasi pada Pecahan Bentuk Aljabar di kelas VIII SMPN 2 Jetis Bantul. Dalam Seminar Nasional Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika FPMIPA UNY  . 11 halaman .
Syah, Muhibbin. (1999). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syah, Muhibbin. (2011). Psikologi Belajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Umar, HM dan Sartono. (2001). Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: CV Pustaka Setia.


No comments:

Disqus for Rifal Nurkholiq